Tapanuli Utara, Mevin.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tancap gas mempercepat pemulihan bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara.
Fokus utama kini diarahkan pada pembangunan Hunian Tetap (Huntap) sebagai solusi jangka panjang bagi ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal.
Ground Breaking oleh Menteri PKP
Sebagai langkah nyata, agenda ground breaking atau peletakan batu pertama pembangunan hunian di wilayah Tapanuli Utara dijadwalkan akan dilaksanakan langsung oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman pada Minggu (21/12/2025).
Pemerintah telah memetakan kebutuhan mendesak bagi 5.974 rumah yang mengalami rusak berat. Sebagai langkah transisi, pembangunan 2.524 unit Hunian Sementara (Huntara) juga tengah memasuki tahap identifikasi lahan di beberapa titik krusial seperti Tapanuli Tengah dan Langkat.
Standar Rumah Tahan Bencana
Di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, BNPB telah menyiapkan rumah contoh sebagai acuan teknis. Rumah ini dirancang khusus dengan standar bangunan aman, layak, dan tahan risiko bencana.
“Kami mengedepankan pendekatan holistik. Pembangunan huntap tidak hanya soal fisik bangunan, tapi juga memastikan keberlanjutan hidup warga, keamanan lingkungan, dan pemulihan sosial ekonomi,” tulis pernyataan resmi BNPB.
Update Penanganan Darurat: 369 Jiwa Meninggal Dunia
Di tengah upaya pemulihan, penanganan darurat banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara masih terus diintensifkan. Hingga Jumat (19/12), data BNPB menunjukkan skala dampak yang sangat besar:
- Korban Jiwa: 369 orang dinyatakan meninggal dunia.
- Warga Hilang: Operasi SAR masih berlangsung di empat sektor krusial untuk mencari 71 orang yang belum ditemukan.
- Infrastruktur: 362 titik gangguan infrastruktur telah diidentifikasi di 12 kabupaten/kota. Koridor Tarutung–Sibolga dan Sibolga–Batangtoru masih memerlukan penanganan ekstra.
Logistik dan Layanan Kesehatan
Untuk mendukung ribuan warga di pengungsian, BNPB telah menyalurkan bantuan logistik sebanyak 9,69 ton yang mencakup pangan, sanitasi, dan alat evakuasi.
Seluruh fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas di Sumatera Utara kini beroperasi penuh (24 jam) untuk melayani masyarakat terdampak.
Melalui percepatan pembangunan Huntap ini, pemerintah berharap dapat menghadirkan rasa aman dan harapan baru bagi masyarakat Sumatera Utara untuk segera bangkit dari masa sulit.***


























