Rahasia Gizi Super Ikan Sidat: Omega 3 Tertinggi di Dunia Versi BRIN

- Redaksi

Minggu, 4 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Mevin.ID – Masyarakat Indonesia kini memiliki jawaban ilmiah tentang sumber asam lemak Omega-3 terbaik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penelitian terbaru mengungkap bahwa kandungan gizi terutama Omega 3 pada ikan sidat asli Indonesia justru mengungguli salmon dan ikan gabus yang selama ini populer.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Gadis Sri Haryani, memaparkan bahwa sidat tidak hanya unggul dalam hal asam lemak esensial DHA dan EPA, tetapi juga merupakan sumber nutrisi lengkap yang kaya akan vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor.

“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” tegas Gadis dalam Seminar “Penguatan Tata Kelola dan Hilirisasi Industri Sidat” di Kampus Unpad, Jatinangor, Kamis (13/11/2025).

Potensi Besar di Balik Siklus Hidup yang Rentan

Meski memiliki nilai ekonomi strategis, keberadaan sidat di alam menghadapi tantangan besar. Gadis menjelaskan bahwa sidat memiliki siklus hidup katadromus yang kritis, dimulai dari laut dalam sebagai larva (leptocephalus), bermigrasi ke muara (estuari) menjadi glass eel (sidat kaca), sebelum akhirnya tumbuh besar di air tawar.

Siklus hidup yang melibatkan tiga ekosistem ini sangat rentan terhadap ancaman. Tingginya permintaan pasar terhadap glass eel untuk tujuan budidaya dan ekspor telah menyebabkan penangkapan berlebihan, fluktuasi harga yang ekstrem, dan ancaman terhadap kelestarian populasi alami.

Kebijakan dan Tantangan Menuju Industri Berkelanjutan

Sebagai langkah perlindungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengeluarkan kebijakan pembatasan kuota tangkap glass eel dan menetapkan ukuran minimal ekspor sidat sebesar 150 gram per ekor. Regulasi ini bertujuan mengendalikan eksploitasi sekaligus mendorong nilai tambah melalui usaha pembesaran dalam negeri.

Namun, jalan menuju industri sidat yang berkelanjutan tidak mulus. Gadis mengakui masih adanya tantangan seperti kapasitas pembenihan (hatchery) dan pembesaran yang terbatas, ketergantungan pada pakan impor, serta sistem pengawasan yang perlu ditingkatkan.

Sinergi Ekologi dan Ekonomi sebagai Kunci Masa Depan

Solusi yang ditawarkan adalah pendekatan berbasis sains dengan tata kelola ekologi sebagai fondasi. Gadis menekankan pentingnya sinergi mutlak antara konservasi berbasis bukti ilmiah dan pengembangan hilirisasi industri. Transformasi dari pengekspor bahan mentah (glass eel) menjadi produsen produk sidat olahan bernilai tinggi menjadi kunci.

“Pemanfaatan sidat yang bertanggung jawab akan menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian laut dan perairan tawar Indonesia sebagai fondasi masa depan bangsa,” tutup Gadis.

Temuan BRIN ini tidak hanya mengangkat potensi sidat sebagai superfood lokal, tetapi juga menyerukan langkah kolektif untuk mengelola sumber daya alam secara bijak, menjamin keberlanjutan ekologi dan ekonomi untuk generasi mendatang.***

Facebook Comments Box

Penulis : Atep K

Editor : Atep K

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya: Tenang, Ekonomi Kita Masih Kuat!
Produksi Nikel 2026 Melorot, Sengaja Dipangkas Kementerian ESDM: Ini Alasannya 
Selamatkan Industri Tekstil, Pemerintah Bentuk BUMN Baru di Bawah Danantara Senilai Rp101 Triliun
Pemprov Jabar Rancang Skema Swap Share: Lepas Saham Kertajati demi Bandara Husein Sastranegara
Rekrutmen Kemenkes Program Penguatan Sistem Rujukan Nasional, Link Pendaftarannya di Sini
Minimarket Sumedang Wajib ‘Wakaf Hijau’? Tuntutan Syarat Izin Baru Berbasis Lingkungan Mencuat
Disindir Prabowo Soal Praktik ‘Main Mata’ di Pajak dan Bea Cukai, Menkeu Purbaya Siap Bersih-Bersih Skuad
Samsat Indramayu Luncurkan Kios-K, Bayar Pajak Kendaraan Tak Perlu Antre

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 22:34 WIB

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya: Tenang, Ekonomi Kita Masih Kuat!

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:15 WIB

Produksi Nikel 2026 Melorot, Sengaja Dipangkas Kementerian ESDM: Ini Alasannya 

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:44 WIB

Selamatkan Industri Tekstil, Pemerintah Bentuk BUMN Baru di Bawah Danantara Senilai Rp101 Triliun

Rabu, 14 Januari 2026 - 08:44 WIB

Pemprov Jabar Rancang Skema Swap Share: Lepas Saham Kertajati demi Bandara Husein Sastranegara

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:34 WIB

Rekrutmen Kemenkes Program Penguatan Sistem Rujukan Nasional, Link Pendaftarannya di Sini

Berita Terbaru