SUATU malam, Syekh Bayazid al-Bastami berjalan sendirian melintasi gurun tandus di pinggiran Bastam. Sudah tiga hari lamanya sang Syekh tidak menyentuh makanan.
Perutnya kosong melilit dan bibirnya pecah-pecah karena dahaga, namun wajahnya tetap memancarkan cahaya ketenangan.
Di tangan kanannya, jemarinya lincah memutar rosario kayu, sementara hatinya mendekap keyakinan yang lebih berat dari isi dunia.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara tangis kecil yang memilukan. Suara itu berasal dari bawah pohon akasia kering yang hampir mati.
Tampak seekor burung kecil dengan sayap yang patah dan bulu yang kusut sedang merengek lemah, sekarat di tengah sunyinya padang pasir.
Bayazid mendekat lalu duduk bersimpuh di samping makhluk kecil itu. Dengan penuh kasih ia berbisik dalam hati, “Wahai makhluk kecil ciptaan Tuhan, betapa lapar dan haus dirimu…”
Bayazid tersenyum tipis. Dari saku gamis usangnya, ia mengeluarkan selembar roti kering seukuran ibu jari. Itulah satu-satunya bekal terakhir yang ia simpan untuk menyambung hidup pada hari keempat.
Tanpa ragu, ia menghancurkan roti itu dengan tangannya dan meletakkannya tepat di depan paruh sang burung.
“Makanlah,” ucap sang Syekh lembut. “Rezekimu telah tiba.”
Burung kecil itu mematuk remah roti tersebut dengan lahap hingga habis tak bersisa. Ia menatap Bayazid dengan mata berbinar, seolah memancarkan rasa terima kasih yang mendalam.
Tak lama kemudian, dari ufuk timur terdengar derap langkah kaki unta yang mendekat dengan cepat. Seorang pemuda Badawi datang dengan beberapa kantong besar yang menggantung di pelananya. Ia segera turun dan membungkuk takzim di hadapan Bayazid.
“Wahai Imam,” ucap pemuda itu dengan suara bergetar. “Kemarin aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Beliau bersabda: ‘Pergilah ke padang pasir, temukan hambaku Bayazid. Berikan semua yang kamu bawa kepadanya, karena ia sedang lapar.’
Aku bangun pagi-pagi sekali, mengemas roti, kurma, susu unta, daging kering, hingga air zam-zam. Aku bawakan semuanya untukmu!”
Bayazid tertawa hingga matanya berkaca-kaca. “Oh anakku,” katanya, “engkau terlambat tiga hari. Rezekiku sudah sampai lebih dulu.”
Pemuda itu kebingungan. “Di mana rezekimu, Syekh? Aku tidak melihat apa pun di tanganmu.”
Bayazid menunjuk ke arah burung kecil yang kini sedang membersihkan paruhnya dengan puas.
“Itulah rezeki pertamaku. Aku memberikan roti terakhirku kepadanya, dan Tuhan menggantinya dengan seluruh muatan untamu. Rezeki bukanlah apa yang masuk ke perut kita, melainkan apa yang kita lepaskan dari tangan kita.”
Mendengar itu, sang pemuda jatuh terduduk dan menangis. Keajaiban pun terjadi; burung kecil yang sayapnya patah itu tiba-tiba mengepakkan sayapnya.
Ia sembuh seketika, terbang tinggi mengitari kepala Bayazid sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya menghilang di cakrawala senja.
Malam itu, Bayazid makan secukupnya, lalu membagikan seluruh sisa makanan pemberian pemuda itu kepada fakir miskin di Bastam. Ketika murid-muridnya bertanya dengan heran, “Wahai Syekh, mengapa engkau tidak menyisakan sebagian untuk hari esok?”
Beliau menjawab: “Rezeki itu ibarat air sungai. Jika engkau menggenggamnya erat, ia akan habis menguap. Namun jika engkau membiarkannya mengalir, ia akan terus datang dari segala penjuru. Orang yang takut kehabisan rezeki sebenarnya sedang berkata kepada Tuhan: ‘Aku tidak percaya bahwa Engkau Maha Pemberi Rezeki.'”
Sejak hari itu, setiap kali ada seseorang yang mengeluh tentang sempitnya rezeki di hadapan Bayazid, beliau hanya mengajukan satu pertanyaan: “Kepada siapa engkau berikan potongan roti terakhir yang ada di tanganmu?”
Bagi Syekh Bayazid al-Bastami, pintu rezeki terbesar tidak dibuka dari langit dengan permintaan, melainkan dibuka dari bumi melalui hati yang tidak pernah takut akan kehampaan.***
+ Serial Filsafat +
Penulis : Bar Bernad


























