“Rakyat Saya Kelaparan”: Jeritan Aceh Utara yang Terendam, Terlambat Ditengok

- Redaksi

Kamis, 4 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto udara kerusakan rumah warga pasca diterjang banjir bandang di Desa Kota Lintang, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025). Bencana banjir bandang yang terjadi pada Rabu (26/11) berdampak rusaknya ribuan rumah, hilangnya harta benda, jalan lintas nasional terendam, 215.652 jiwa dari 53.835 kepala keluarga terpaksa mengungsi dan 39 orang meninggal dunia. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Foto udara kerusakan rumah warga pasca diterjang banjir bandang di Desa Kota Lintang, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025). Bencana banjir bandang yang terjadi pada Rabu (26/11) berdampak rusaknya ribuan rumah, hilangnya harta benda, jalan lintas nasional terendam, 215.652 jiwa dari 53.835 kepala keluarga terpaksa mengungsi dan 39 orang meninggal dunia. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Aceh Utara, Mevin.ID — Di tengah lumpur dan bau banjir yang mulai basi, Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil berdiri dengan suara bergetar. Sudah 12 hari wilayahnya terendam, tapi tak satu pun menteri dari Kabinet Merah Putih datang menyaksikan sendiri bencana yang menewaskan begitu banyak warganya.

“Rakyat saya kelaparan. Jenazah rakyat saya belum diambil. Tolong dibantu…” katanya, menahan emosi yang sejak beberapa hari terakhir menjadi bahasa keseharian seluruh Aceh Utara.

Banjir besar yang mulai menerjang sejak 22 November 2025 itu telah merenggut 121 nyawa. 109 orang lainnya masih hilang, dibawa arus yang menenggelamkan rumah, jalan, sekolah, dan kehidupan. Beberapa desa hingga hari ini tetap terisolasi—tidak ada akses darat, tidak ada sinyal, tidak ada listrik. Hanya air, lumpur, dan harap yang makin menipis.

Ketika Daerah Sudah Habis-habisan, tapi Bantuan Belum Sampai

Ismail mengaku seluruh dana darurat telah habis. Semua yang bisa dilepas, telah dilepas. Semua tenaga yang bisa dikerahkan, telah dikerahkan. Namun wilayah terlalu luas, korban terlalu banyak.

“Rakyat saya tinggal baju di badan. Rumah hilang, harta hilang. Sekarang mulai sakit-sakitan. Kami tidak mampu menjangkau semua titik,” ujarnya.

Ia tidak memahami mengapa pemerintah pusat begitu lambat hadir.

“Apa pejabat pusat tidak tahu? Atau menganggap banjir ini tidak parah?”
Pertanyaan itu meluncur seperti kemarahan yang sudah terlalu lama dipendam.

Teriakan Minta Helikopter

Daerah pedalaman seperti Langkahan praktis tak bisa diakses. Ismail meminta bantuan helikopter berulang kali—setidaknya agar logistik bisa masuk. Tapi hingga Rabu (3/12), permintaan itu belum juga dikabulkan.

“Saya minta helikopter untuk distribusi ke pedalaman. Tidak ada juga.”

Nada frustrasi itu sulit disembunyikan.

BNPB akhirnya memastikan dua titik distribusi udara mulai dioperasikan dari Banda Aceh hari ini. Tapi bagi warga yang sudah menunggu dua minggu, kabar itu datang terlambat.

Presiden Sudah Datang, Tapi Warga Masih Terkepung

Presiden Prabowo memang sudah meninjau Aceh dan melepas bantuan dari Sumatera Utara. Puluhan ton beras telah dikirim, helikopter TNI Cracal juga sempat diterbangkan ke Bener Meriah.

Namun di Aceh Utara, skala kerusakan membuat aliran bantuan seperti tetes kecil di tengah lautan.

“Jangan biarkan rakyat kami mati kelaparan,” pinta Ismail lagi.

Sebuah kalimat yang terasa lebih seperti doa daripada sekadar permintaan.

Banjir yang Menyamai Luka Kolektif

Dari Aceh Tamiang hingga Padang, dari Bener Meriah hingga Tapanuli, banjir di Sumatera kini tercatat sebagai salah satu yang terdahsyat dalam 20 tahun terakhir. Ada kampung yang hilang, jembatan-jembatan putus, dan antrean BBM yang mengular puluhan meter.

Beberapa warga mulai kelaparan. Sebagian lain mulai berebut logistik.
Ini bukan hanya bencana alam—ini bencana kemanusiaan.

Saat Jeritan Bupati Menjadi Suara Semua Korban

Dalam video yang beredar, Ismail—atau Ayahwa, begitu warganya memanggilnya—membacakan surat untuk Presiden. Suaranya pecah. Bukan karena lelah, tapi karena tak sanggup lagi melihat warganya menunggu bantuan yang tak kunjung datang.

Apa yang ia ucapkan bukan sekadar kritik.

Itu adalah pekik seorang pemimpin yang sejak hari pertama berada di tengah air pasang, tanpa listrik, tanpa sinyal, tanpa kepastian kapan bantuan datang.

Dan pekik itu, pada akhirnya, adalah suara semua korban yang namanya tak tercatat di kamera.**”

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tangan Diborgol, Wali Kota Madiun Maidi Resmi Ditahan KPK Terkait Kasus Pemerasan & Gratifikasi
Pakai Rompi Oranye KPK, Bupati Pati Sudewo Bantah Peras Calon Perangkat Desa Rp2,6 Miliar
GUN Ketua LSM Sniper Diperiksa KPK Terkait Korupsi Bupati Bekasi Ade Kunang
Terjaring OTT Jual Beli Jabatan, Bupati Pati Sudewo Tiba di Gedung Merah Putih KPK
Cinta di Balik Air Bah, Kisah Induk Gajah Melawan Arus Dahsyat Demi Sang Anak
TKW Korban Penganiayaan di Oman Diselamatkan Pekerja Indonesia, Eka Diduga Jadi Korban TPPO
Kabar Baik untuk Pegawai Inti SPPG: Status PPPK Resmi Per 1 Februari 2026, Bagaimana Nasib Relawan dan Staf Lain?
Wapres Gibran di Tasikmalaya: Perkuat Ekonomi Rakyat hingga Pantau Inovasi AI di Pesantren

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:48 WIB

Tangan Diborgol, Wali Kota Madiun Maidi Resmi Ditahan KPK Terkait Kasus Pemerasan & Gratifikasi

Selasa, 20 Januari 2026 - 16:00 WIB

GUN Ketua LSM Sniper Diperiksa KPK Terkait Korupsi Bupati Bekasi Ade Kunang

Selasa, 20 Januari 2026 - 15:06 WIB

Terjaring OTT Jual Beli Jabatan, Bupati Pati Sudewo Tiba di Gedung Merah Putih KPK

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:32 WIB

Cinta di Balik Air Bah, Kisah Induk Gajah Melawan Arus Dahsyat Demi Sang Anak

Selasa, 20 Januari 2026 - 13:00 WIB

TKW Korban Penganiayaan di Oman Diselamatkan Pekerja Indonesia, Eka Diduga Jadi Korban TPPO

Berita Terbaru