Redefinisi Kebahagiaan: Mengapa Anak Tak Lagi Jadi “Syarat Sah” Lengkapnya Pernikahan?

- Redaksi

Rabu, 4 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pernikahan

i

Ilustrasi Pernikahan

JAKARTA, Mevin.ID – Selama berdekade-dekade, konstruksi sosial kita mendikte bahwa anak adalah pelengkap utama sekaligus tujuan akhir dari sebuah pernikahan.

Namun, narasi ini mulai bergeser. Kini, banyak pasangan modern yang merasa hidup mereka sudah “lengkap” meski tanpa kehadiran keturunan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi bukti nyata pergeseran ini. Angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) di Indonesia merosot tajam.

Jika pada tahun 1971 satu perempuan rata-rata memiliki 5 hingga 6 anak (TFR 5,61), data Sensus Penduduk 2020 menunjukkan angka tersebut menyusut ke level 2,18.

Menjadi “Utuh” Sebelum Menjadi Orang Tua

Psikolog klinis dewasa, Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., melihat fenomena ini berakar pada perubahan cara individu memaknai identitas diri. Alih-alih mencari “belahan jiwa” untuk melengkapi kekurangan, individu modern cenderung fokus menjadi sosok yang utuh secara mandiri sebelum memasuki komitmen pernikahan.

“Penyebab pasangan tidak lagi merasa bahwa memiliki anak adalah cara agar diri mereka merasa lengkap adalah pergeseran makna atas ‘lengkap’ itu sendiri,” ujar Adelia.

Menurutnya, relasi romantis kini dipandang sebagai pertemuan dua individu yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, bukan untuk saling menopang kekurangan.

Aktualisasi Diri dan Pudarnya Tekanan Sosial

Kebebasan menentukan arti kebahagiaan juga dipengaruhi oleh menurunnya tekanan sosial terkait pernikahan dan pola asuh. Fitri Jayanthi, M.Psi., pendiri Cup of Stories, menyebutkan bahwa fokus masyarakat kini beralih ke aktualisasi diri dan pencapaian karier.

Rasa puas dan “lengkap” kini lebih banyak ditemukan melalui:

  • Pencapaian Karier: Merasa berdaya dan menguasai aspek kehidupan secara mandiri.

  • Kesehatan Mental: Menghindari stres akibat ekspektasi sosial.

  • Eksplorasi Diri: Kebebasan waktu dan finansial untuk hobi serta pengembangan diri.

Realisme: Lebih Baik Tanpa Anak daripada Tidak Siap

Selain faktor ego dan karier, ada kesadaran realistis yang tumbuh: tanggung jawab mental dan finansial. Banyak pasangan menyadari bahwa memaksakan diri menjadi orang tua tanpa kesiapan yang matang justru dapat merusak kualitas hidup dan pandangan terhadap diri sendiri.

“Terbentuk pemikiran bahwa lebih baik tidak memiliki anak daripada pandangan terhadap diri sendiri menurun karena ketidaksiapan yang dimiliki,” tambah Fitri.

Pada akhirnya, memiliki anak kini bukan lagi dipandang sebagai kewajiban untuk menjadi manusia seutuhnya. Di era ini, menjadi “lengkap” adalah tentang bagaimana seseorang mampu berdamai dan merasa cukup dengan dirinya sendiri, dengan atau tanpa suara tangis bayi di rumah.

Sekilas Fakta: Angka Kelahiran Indonesia

Tahun Angka Kelahiran (TFR)
1971 5,61
2020 2,18
Facebook Comments Box

Editor : Bar Bernad

Sumber Berita: Kompas

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Berburu Takjil di BTR 7 Bekasi: Dari Tahu Brontak Super Pedas Hingga Es Apaya, Semuanya Ada!
Unik! Di Majalengka, Ikan Lele Disulap Jadi Dessert hingga Minuman Segar Tanpa Bau Amis
Gunung Pantun Stone: “Surga Tersembunyi” Hanya 10 Menit dari Pusat Kota Majalengka yang Butuh Sentuhan Ekstra
Menanam Budaya Kopi yang Kuat di Kalangan Anak Muda Bandung
Indonesia Waspada Virus Nipah: Kemenkes Ingatkan Bahaya Nira Mentah dan Bekas Gigitan Kelelawar
Jasinga “Rafting” Tanpa Pelampung: Saat Nyali Bertemu Kearifan Arus
Curug Bugbrug Cisarua Ditutup, Menyertai Duka Bencana Pasirlangu
Krisis Populasi Pria, Wanita di Latvia Kini Tren ‘Sewa Suami’ untuk Urusan Rumah Tangga

Berita Terkait

Rabu, 4 Maret 2026 - 12:36 WIB

Redefinisi Kebahagiaan: Mengapa Anak Tak Lagi Jadi “Syarat Sah” Lengkapnya Pernikahan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:06 WIB

Berburu Takjil di BTR 7 Bekasi: Dari Tahu Brontak Super Pedas Hingga Es Apaya, Semuanya Ada!

Senin, 9 Februari 2026 - 12:11 WIB

Unik! Di Majalengka, Ikan Lele Disulap Jadi Dessert hingga Minuman Segar Tanpa Bau Amis

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:31 WIB

Gunung Pantun Stone: “Surga Tersembunyi” Hanya 10 Menit dari Pusat Kota Majalengka yang Butuh Sentuhan Ekstra

Rabu, 4 Februari 2026 - 16:30 WIB

Menanam Budaya Kopi yang Kuat di Kalangan Anak Muda Bandung

Berita Terbaru