Jakarta, Mevin.ID — Rencana pemerintah merapikan nilai rupiah lewat kebijakan redenominasi kembali mencuat. Namun, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad mengingatkan potensi risiko yang tak boleh diremehkan: inflasi dan maraknya aksi pihak yang mencari keuntungan pribadi alias rent seeker.
Tauhid menjelaskan, redenominasi dilakukan dengan memangkas tiga nol di belakang angka rupiah tanpa mengubah nilai riil. Namun dalam praktik, ia menilai akan muncul momentum bagi pelaku pasar nakal untuk menaikkan harga secara manipulatif.
“Risikonya selain inflasi yang pasti terjadi, karena saat rupiah redenominasi orang pada naikin harga,” ujar Tauhid kepada Mevin.ID, Minggu (9/11/2025).
Menurutnya, kenaikan harga pasca-redenominasi bukan disebabkan biaya produksi atau permintaan meningkat, melainkan ulah oknum yang memanfaatkan kebingungan publik.
Risiko Psikologis Publik
Tak hanya persoalan pasar, misinformasi dan minimnya literasi masyarakat bisa memperburuk keadaan. Perubahan angka pada uang tabungan — dari jutaan jadi ribuan — berpotensi menimbulkan kepanikan dan kesan “nilai uang turun”.
“Perasaan masyarakat bisa salah. Yang tadinya punya jutaan jadi hanya beberapa. Nah ini yang saya kira menjadi problem,” jelas Tauhid.
Jika tidak ditangani, persepsi keliru ini bisa memicu gejolak sosial karena publik merasa dirugikan secara tiba-tiba.
Butuh Sosialisasi Masif dan Pengawasan Ketat
Tauhid menekankan pentingnya langkah antisipasi. Pemerintah perlu menggencarkan edukasi publik sejak dini dan memastikan pengawasan ketat agar tidak ada pihak yang bermain di tengah transisi.
“Sosialisasi yang gencar di masyarakat,” tegasnya.
Masuk Agenda Prioritas Pemerintah
Kebijakan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70 Tahun 2025 mengenai Rencana Strategis Kemenkeu 2025–2029. Targetnya: penyelesaian RUU Redenominasi Rupiah pada 2027.
Dengan risiko inflasi jangka pendek dan keresahan publik yang mungkin muncul, kebijakan ini memasuki zona rawan. Kesiapan pemerintah mengendalikan narasi dan menekan praktik rent seeking bakal menjadi kunci keberhasilan perapian rupiah.***


























