“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.”
— Ir. Soekarno
HARI ini, kita mengenang para pahlawan yang berjuang bukan untuk dirinya, tapi untuk bangsa. Mereka berkorban tanpa pamrih, menanggung penderitaan demi kemerdekaan dan martabat rakyat Indonesia.
Namun, dalam suasana kebangsaan hari ini, kita menyaksikan betapa nilai keteladanan itu mulai memudar.
Korupsi merajalela, kejujuran seakan langka, dan para elit bangsa lebih sibuk mempertahankan kekuasaan daripada menegakkan kebenaran.
Semangat pengorbanan bergeser menjadi semangat memperkaya diri. Fenomena ini seceara kasatmata dapat kita saksikan.
Bangsa ini tengah mengalami krisis keteladanan. Padahal, keteladanan adalah fondasi moral sebuah bangsa.
Pahlawan sejati tidak diukur dari jabatan, melainkan dari keberanian menegakkan kebenaran dan kejujuran.
Kita memerlukan pahlawan-pahlawan baru: mereka yang berani jujur di tengah budaya korupsi, berani sederhana di tengah kemewahan, dan berani berpihak pada rakyat kecil di tengah arus kepentingan.
Hari Pahlawan harus menjadi cermin bagi kita semua — apakah kita masih meneladani semangat pengorbanan itu, atau justru ikut melupakan maknanya.
“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.”
— KH. Hasyim Asy’ari
Mari kita buktikan cinta tanah air bukan dengan kata-kata, tapi dengan kejujuran, pengabdian, dan tanggung jawab.
Karena sejatinya, setiap tindakan kecil yang lahir dari keikhlasan adalah bentuk kepahlawanan yang sesungguhnya.***
Dadang Sudardja, Ketua LPBI PWNU Jawa Barat; Ketua Dewan Nasional WALHI 2012–2016; Direktur Yayasan Sahabat Nusantara.


























