Refleksi Hari Pahlawan 2025, Krisis Keteladanan di Negeri yang Lupa akan Pengorbanan

- Redaksi

Senin, 10 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.”

— Ir. Soekarno

HARI ini, kita mengenang para pahlawan yang berjuang bukan untuk dirinya, tapi untuk bangsa. Mereka berkorban tanpa pamrih, menanggung penderitaan demi kemerdekaan dan martabat rakyat Indonesia.

Namun, dalam suasana kebangsaan hari ini, kita menyaksikan betapa nilai keteladanan itu mulai memudar.

Korupsi merajalela, kejujuran seakan langka, dan para elit bangsa lebih sibuk mempertahankan kekuasaan daripada menegakkan kebenaran.

Semangat pengorbanan bergeser menjadi semangat memperkaya diri. Fenomena ini seceara kasatmata dapat kita saksikan.

Bangsa ini tengah mengalami krisis keteladanan. Padahal, keteladanan adalah fondasi moral sebuah bangsa.

Pahlawan sejati tidak diukur dari jabatan, melainkan dari keberanian menegakkan kebenaran dan kejujuran.

Kita memerlukan pahlawan-pahlawan baru: mereka yang berani jujur di tengah budaya korupsi, berani sederhana di tengah kemewahan, dan berani berpihak pada rakyat kecil di tengah arus kepentingan.

Hari Pahlawan harus menjadi cermin bagi kita semua — apakah kita masih meneladani semangat pengorbanan itu, atau justru ikut melupakan maknanya.

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.”

— KH. Hasyim Asy’ari

Mari kita buktikan cinta tanah air bukan dengan kata-kata, tapi dengan kejujuran, pengabdian, dan tanggung jawab.

Karena sejatinya, setiap tindakan kecil yang lahir dari keikhlasan adalah bentuk kepahlawanan yang sesungguhnya.***

Dadang Sudardja, Ketua LPBI PWNU Jawa Barat; Ketua Dewan Nasional WALHI 2012–2016; Direktur Yayasan Sahabat Nusantara.

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Banjir ke Kontroversi, Politikus, Bencana, dan Teriakan Merdeka di Nias
Dari Puing Jepang hingga Siaga Nusantara: Pelajaran Bosai untuk Indonesia
Tongkat Sang Penolong dan Kaki yang Patah: Refleksi Ketergantungan pada Negara
Ilusi Tembok Abu-Abu: Ketika Pikiran Membangun Penjara
Geotermal Bukan Tanpa Masalah, DPR Harus Jawab Tiga Dilema Krusial
Amarah, Api yang Menghanguskan dan Pemicu Perubahan
Bencana Antropogenik Sumatera 2025: Luka yang Dibuat, Bukan Ditakdirkan
Al-Kindi: Sang Filsuf Arab Pertama Penjaga Gerbang Akal dan Wahyu

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:35 WIB

Dari Banjir ke Kontroversi, Politikus, Bencana, dan Teriakan Merdeka di Nias

Selasa, 16 Desember 2025 - 10:58 WIB

Dari Puing Jepang hingga Siaga Nusantara: Pelajaran Bosai untuk Indonesia

Selasa, 16 Desember 2025 - 08:09 WIB

Tongkat Sang Penolong dan Kaki yang Patah: Refleksi Ketergantungan pada Negara

Senin, 15 Desember 2025 - 21:06 WIB

Ilusi Tembok Abu-Abu: Ketika Pikiran Membangun Penjara

Senin, 15 Desember 2025 - 10:24 WIB

Geotermal Bukan Tanpa Masalah, DPR Harus Jawab Tiga Dilema Krusial

Berita Terbaru