JAKARTA, Mevin.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan tajam setelah puluhan anak sekolah dilaporkan mengalami keracunan massal di dua lokasi berbeda, yaitu Bireuen (Aceh) dan Tulang Bawang (Lampung), pada Kamis (26/2/2026).
Insiden ini menambah panjang daftar kasus serupa yang sebelumnya terjadi di Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.
Rincian Kejadian: 45 Anak di Aceh, 33 Warga di Lampung
Di Simpang Mamplam, Bireuen, sebanyak 45 anak yang terdiri dari siswa TK, PAUD, dan SD dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit dengan gejala muntah-muntah hebat pada Kamis malam.
Kepala UPTD Puskesmas Simpang Mamplam, Suryani, mengonfirmasi bahwa sampel makanan (bakso dan susu) telah diambil untuk uji laboratorium.
Sementara itu, di Tulang Bawang, Lampung, sebanyak 33 warga—terdiri dari balita, anak-anak, lansia, dan dewasa—mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG yang dibawa pulang. Mereka langsung mendapat perawatan di RSUD Menggala.

Evaluasi Standar Higiene dan Sanitasi
Rentetan kasus keracunan ini memicu kritik keras terkait kelayakan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kasus sebelumnya di SMA Negeri 2 Kudus bahkan terbukti disebabkan oleh kontaminasi bakteri Escherichia coli (E-Coli) pada makanan yang disajikan.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa dapur SPPG yang terlibat terbukti belum memenuhi standar kelayakan, sanitasi, dan higiene pangan.
“Kejadian ini harus menjadi pembelajaran bagi seluruh penyelenggara MBG agar standar kebersihan dan keamanan pangan tidak ditawar,” tegas Nanik.
Tanggapan dan Permintaan Maaf BGN
Kepala BGN, Dadan Hindayana, secara resmi menyampaikan permintaan maaf atas insiden yang menimpa para penerima manfaat.
BGN berjanji akan melakukan perbaikan sistematis dan memperketat pengawasan terhadap seluruh dapur penyedia makan guna mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.
Saat ini,investigasi menyeluruh sedang dilakukan terhadap SPPG yang terlibat untuk memastikan program MBG tetap berjalan aman dan sesuai tujuan awalnya.***
Editor : Bar Bernad


























