Ribka Tjiptaning Dilaporkan ke Bareskrim Usai Sebut Soeharto “Pembunuh Jutaan Rakyat”

- Redaksi

Rabu, 12 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi VII DPR RI, Ribka Tjiptaning

Anggota Komisi VII DPR RI, Ribka Tjiptaning

Jakarta, Mevin.ID – Pernyataan lantang politisi senior PDI-P, Ribka Tjiptaning, soal Presiden ke-2 RI Soeharto, berbuntut panjang. Rabu (12/11/2025), Aliansi Rakyat Anti-Hoaks (ARAH) resmi melaporkannya ke Bareskrim Polri.

Dalam laporan itu, ARAH menilai ucapan Ribka yang menyebut Soeharto sebagai “pembunuh jutaan rakyat” telah menyesatkan publik dan berpotensi mengandung unsur ujaran kebencian serta penyebaran berita bohong.

“Kami melaporkan pernyataan Ibu Ribka yang menyebut Soeharto pembunuh jutaan rakyat. Kami nilai ini menyesatkan dan tidak berdasar hukum,” ujar Iqbal, Koordinator ARAH, di Mabes Polri.

Menurutnya, tidak pernah ada putusan pengadilan yang menyatakan Soeharto bersalah atas pembunuhan massal. “Kalau benar beliau pembunuh, di mana putusan hukumnya?” kata Iqbal.

ARAH melaporkan kasus ini ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim dengan dugaan pelanggaran UU ITE Pasal 28 jo Pasal 45. Mereka menegaskan, laporan ini bukan inisiatif keluarga Cendana, melainkan “upaya menjaga ruang publik dari hoaks politik.”

Pernyataan Ribka dan Ingatan yang Belum Usai

Sebelumnya, Ribka—yang juga Ketua DPP PDI-P—menyatakan penolakannya terhadap rencana pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.
Dalam wawancara di Sekolah Partai PDI-P, Lenteng Agung, 28 Oktober lalu, ia dengan tegas menyebut:

“Apa hebatnya Soeharto dijadikan pahlawan? Hanya bisa membunuh jutaan rakyat Indonesia,” katanya.

Ribka menyinggung pelanggaran HAM berat era Orde Baru yang belum pernah diselesaikan hingga kini. “Belum ada pelurusan sejarah, bagaimana bisa diberi gelar pahlawan?” ujarnya.

Saat dimintai tanggapan atas laporan ARAH, Ribka menjawab singkat melalui pesan “Thanks infonya.”

Ketika Ingatan Bangsa Jadi Medan Hukum

Kontroversi ini kembali membuka luka lama sejarah.
Soeharto, yang berkuasa lebih dari tiga dekade, masih menjadi sosok yang membelah opini publik—antara “pahlawan pembangunan” dan “pelaku pelanggaran HAM.”

Laporan terhadap Ribka memperlihatkan bagaimana ingatan sejarah kini diadili lewat pasal digital. Bagi sebagian kalangan, ini bukan sekadar soal etika berbicara, melainkan soal siapa yang berhak menafsir masa lalu.

Di ruang publik yang makin sensitif, sejarah bukan lagi ruang diskusi, melainkan medan delik hukum.
Pertanyaannya, apakah laporan semacam ini akan melahirkan kejelasan, atau justru semakin menebalkan kabut lupa yang menutupi sejarah kita?***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Perintahkan Audit Total Toba Pulp Lestari, Negara Mulai Mengetuk Pintu Industri Kehutanan
Pemerintah Cabut 22 Izin Hutan, 1 Juta Hektare Ditertibkan
Ijazah Jokowi Ditunjukkan dalam Gelar Perkara Khusus, Polemik Publik Mulai Mereda
Fadli Zon Luncurkan Buku Sejarah Indonesia 10 Jilid, Fokus Merawat Memori Kolektif Bangsa
Presiden Prabowo: Sumatera Bukan Tempat Wisata Bencana, Pejabat Harus Fokus Bantu Korban
14 Desember Resmi Jadi Hari Sejarah, Fadli Zon Tegaskan Pentingnya Memori Kolektif
Perusahaan Biang Banjir Sumatera Dipetakan, Terancam Pidana dan Ganti Rugi
AS Perketat Akses Masuk, Riwayat Media Sosial Jadi Alat Penyaringan Digital

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 12:05 WIB

Prabowo Perintahkan Audit Total Toba Pulp Lestari, Negara Mulai Mengetuk Pintu Industri Kehutanan

Senin, 15 Desember 2025 - 21:21 WIB

Ijazah Jokowi Ditunjukkan dalam Gelar Perkara Khusus, Polemik Publik Mulai Mereda

Senin, 15 Desember 2025 - 20:19 WIB

Fadli Zon Luncurkan Buku Sejarah Indonesia 10 Jilid, Fokus Merawat Memori Kolektif Bangsa

Senin, 15 Desember 2025 - 18:49 WIB

Presiden Prabowo: Sumatera Bukan Tempat Wisata Bencana, Pejabat Harus Fokus Bantu Korban

Senin, 15 Desember 2025 - 18:42 WIB

14 Desember Resmi Jadi Hari Sejarah, Fadli Zon Tegaskan Pentingnya Memori Kolektif

Berita Terbaru