Jakarta, Mevin.ID — Malam itu, AS (42) hanya berniat menjalankan tugas sederhana: memastikan lingkungan RW 09, Jalan Pelajar, Cakung, Jakarta Timur, tetap aman. Namun, langkah keberaniannya mengubah segalanya.
Saat memantau CCTV, ia melihat dua sosok mencurigakan tengah mencongkel sepeda motor warga. Tanpa menunggu lama, ia bersama dua rekannya tancap gas menuju lokasi. Bukan sekadar mengejar, AS menabrakkan sepeda motornya ke arah pelaku untuk menghentikan niat jahat mereka.
Tubuhnya dan pelaku terhempas ke jalan. AS tetap melawan, bergumul mempertahankan keamanan warga yang ia kenal satu per satu. Hingga suara letusan terdengar dua kali — peluru menembus tubuhnya. Ia roboh, namun aksi curanmor itu gagal seketika.
Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur, AKBP Dicky Fertofan, memastikan AS meninggal dunia akibat luka tembak dari pelaku.
“Beliau tewas terkena tembakan pelaku yang diduga maling motor,” ujar Dicky, Sabtu.
Kapolsek Cakung Kompol Widodo Saputro menambahkan, AS saat itu memang sedang ronda malam. Tugas itu bukanlah kewajiban penuh waktu — ia hansip lingkungan yang menjaga kampung karena rasa tanggung jawab.
“Korban monitor CCTV dan melihat dua orang dicurigai mencongkel motor. Kemudian mengejar bersama saksi,” tutur Widodo.
Peluru menamatkan nyawanya, namun keberaniannya menyelamatkan warga dari kejahatan yang belakangan kian nekat.
AS meninggalkan keluarga dan tetangga yang kini mengenangnya sebagai pahlawan kampung. Sosok yang tak pernah menolak saat diminta menjaga malam, tak pernah mundur ketika bahaya mengintai.
Sejumlah warga sekitar mengaku terpukul. Bukan hanya karena kepergian AS, tetapi karena pesan besar yang ditinggalkannya: rasa aman ternyata harus dibela, meski nyawa taruhannya.
Polisi kini memburu pelaku yang kabur membawa senjata api ilegal — ancaman yang semakin sering membayangi ibu kota belakangan ini.
AS mungkin tak memakai seragam aparat negara. Ia tak memiliki pangkat, apalagi lencana. Tetapi keberanian membuatnya berbeda.
Ia gugur bukan sebagai korban, melainkan penjaga kota yang menolak mundur dari kejahatan.
Di lingkungan kecil di sudut Cakung itu, warga tahu persis: ada pahlawan yang berjaga setiap malam, sampai napas terakhir.***


























