Aceh, Mevin.ID – Siang itu, tenda pengungsian di Gampong Pante Baro, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, dipenuhi suara hujan tipis dan langkah-langkah relawan yang lalu-lalang.
Namun suasana berubah hening ketika seorang ibu mendekat kepada Presiden Prabowo Subianto, suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.
“Sudah diambil sungai, Pak… rumah saya. Tidak ada lagi rumah.”
Presiden menghentikan langkahnya. Ia menunduk, menatap sang ibu, lalu menepuk lembut bahunya.
“Sabar ya, sabar…” ucapnya pelan.
Di titik pengungsian itu, ratusan warga kehilangan tempat tinggal setelah banjir bandang menghantam Bireuen. Banyak dari mereka hanya membawa pakaian di badan, sementara rumah-rumah berubah menjadi puing yang hanyut terbawa arus sungai.
Menyapa Satu per Satu, Mencium Kening Anak Kecil
Prabowo kemudian menelusuri lorong-lorong tenda, menyalami warga yang memanggil-manggil namanya. Seorang anak kecil dipeluknya, lalu keningnya dicium—gestur sederhana yang membuat sang anak tersenyum meski masih trauma atas rumahnya yang hilang.
Di posko tersebut, Presiden mengecek langsung layanan kesehatan, MCK, pasokan air bersih, hingga kesiapan dapur umum. Ia ingin memastikan kebutuhan dasar warga benar-benar terjamin.
Mencicipi Masakan Dapur Umum
Di tengah aktivitas dapur darurat yang dikerjakan prajurit Kodam Iskandar Muda bersama relawan dan ibu-ibu pengungsi, Prabowo menghampiri sambil tersenyum.
“Ada sendok? Saya mau coba,” katanya.
Ibu-ibu pun cepat menyiapkan sepiring nasi putih, ikan tongkol goreng, dan tumis kol-wortel. Presiden mencicipinya, lalu berkomentar sambil tersenyum kecil:
“Pedes ya ini.”
Percakapan ringan pun terjadi. Salah satu juru masak bertanya dengan gugup tapi riang.
“Enak gak, Pak?”
“Ikan tongkol ini,” jawab Prabowo, sambil terus menyendok hidangan yang ia cicipi.
Momen seperti ini, kata petugas dapur, jarang terjadi: Presiden duduk makan layaknya warga biasa, memastikan makanan yang disajikan bukan hanya sekadar ada, tetapi juga layak dan bergizi.
Agenda Berlanjut: Dari Bireuen ke Banda Aceh
Usai dari Pante Baro, Presiden kembali ke Bandara Internasional Iskandar Muda sebelum bertolak ke Banda Aceh.
Malam harinya, ia dijadwalkan memimpin rapat kabinet terbatas membahas penanganan banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.
Di tengah ribuan warga yang masih bertahan di tenda-tenda darurat, harapan sederhana menggantung: agar negara bukan hanya hadir, tetapi juga memulihkan hidup mereka yang sudah tersapu air.***


























