Kendari, Mevin.ID – Riuh rendah suasana pengambilan rapor di SMP Negeri 5 Kendari pada Senin (22/12) pagi itu terasa berbeda bagi Pipin April Dinova.
Di saat teman-temannya datang didampingi orang tua lengkap, siswi berusia 13 tahun ini hadir dengan pendamping yang tak biasa: seorang petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) berseragam lengkap.
Bukan karena ada kebakaran di sekolah, melainkan karena Pipin sedang menambal lubang di hatinya.
Sebuah Pesan di Layanan Pengaduan
Cerita ini bermula pada Kamis (18/12). Layanan pengaduan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Kendari menerima sebuah laporan yang tidak biasa.
Bukan tentang api yang berkobar atau hewan liar yang masuk ke rumah, melainkan permintaan tolong dari seorang anak perempuan.
Pipin, yang kini duduk di bangku SMP, menghubungi petugas untuk meminta bantuan pendampingan mengambil rapor.
Alasannya sederhana namun menyesakkan: kedua orang tuanya telah bercerai, dan ia tidak memiliki sosok yang bisa mendampinginya ke sekolah untuk melihat hasil perjuangan belajarnya.
“Iya benar, tadi pagi itu pengambilan rapor. Dia meminta bantu ke petugas untuk mengambil, saya yang ke sana,” ujar Danton II Damkarmat Kendari, Sainuddin Saranani, saat dikonfirmasi pada Senin (22/12).
Menjadi ‘Ayah’ Sehari
Bagi Sainuddin dan timnya, tugas hari itu melampaui kewajiban memadamkan api. Ia hadir di SMPN 5 Kendari sebagai sosok wali bagi Pipin.
Mengenakan seragam kebanggaannya, Sainuddin duduk di antara para orang tua murid lainnya, mendengarkan penjelasan guru, dan menerima buku laporan pendidikan milik Pipin.
Kehadiran petugas Damkar ini sempat memicu perhatian warga sekolah. Namun, di balik seragam gagah itu, ada misi kemanusiaan untuk memberikan dukungan moral bagi seorang anak yang merasa sendirian di hari pentingnya.
Langkah Pipin menghubungi Damkar menunjukkan betapa institusi ini telah menjadi tempat berlindung yang dipercaya warga, bahkan untuk urusan personal yang paling rapuh sekalipun.
Damkar: Lebih dari Sekadar Pemadam Api
Kisah Pipin April Dinova mengingatkan publik bahwa fungsi Damkarmat kini semakin meluas. Selain urusan rescue dan firefighting, mereka juga menjadi sandaran sosial bagi masyarakat.
Bagi Pipin, kehadiran Sainuddin mungkin hanya berlangsung beberapa jam di dalam kelas.
Namun, bagi seorang remaja berusia 13 tahun yang tengah menghadapi badai perpisahan orang tua, kehadiran sosok “pahlawan” berseragam itu adalah pesan bahwa ia tidak benar-benar sendirian.
Hari itu, di SMPN 5 Kendari, rapor telah diterima. Tidak ada api yang dipadamkan, namun ada kehangatan yang berhasil dinyalakan di hati seorang siswa bernama Pipin.***
Penulis : Bar Bernad

























