BEKASI, Mevin.ID – Persoalan sampah di perbatasan wilayah Jawa Barat kembali menjadi sorotan tajam Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Melalui pantauan langsung di lapangan, Gubernur mendapati tumpukan sampah yang menimbulkan bau menyengat di jalur strategis dan aliran sungai, yang dipicu oleh luapan dari tempat pembuangan akhir serta perilaku pembuangan sampah sembarangan.
Sampah “Kiriman” dan Masalah di Bantargebang
Dalam video unggahan terbarunya, Gubernur menyoroti tumpukan sampah di jalur Cikopo yang berasal dari berbagai sumber, termasuk dampak longsoran di sekitar Sumur Batu dan Bantargebang.
“Ini sampah dari mana-mana. Jika dari Bantargebang berarti sampah Jakarta, ada juga dari Kota Bekasi. Masuk ke Sungai Kalijambe, lalu diangkat dan hanya ditumpuk di sini (pinggir jalan),” ujar Dedi Mulyadi saat berdialog dengan warga di lokasi.
Kondisi ini diperparah dengan adanya aksi saling tolak antarwilayah. Gubernur menyebut terjadi dilema di mana sampah tersebut tidak diterima di pembuangan Kota maupun Kabupaten Bekasi (Burangkeng), sehingga sampah akhirnya menumpuk di pinggir jalan tol dan akses publik.
View this post on Instagram
4 Langkah Strategis Penanganan Sampah Jabar
Merespons kondisi “Ganu Gelo” (kondisi yang semrawut) ini, Gubernur Dedi Mulyadi menetapkan empat poin utama yang akan segera dieksekusi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat:
- Pengambilalihan Kelola oleh BUMD: Manajemen pengelolaan sampah akan dikoordinasikan langsung oleh BUMD Provinsi Jawa Barat agar lebih terintegrasi.
- Optimalisasi TPA Sumur Batu: Melakukan penanganan khusus di titik Sumur Batu agar tidak lagi terjadi longsoran sampah ke area sekitarnya.
- Pembangunan Turap di Sungai Kalijambe: Membuat benteng atau turap di sepanjang aliran Sungai Cijambe untuk mencegah sampah masuk ke aliran air dan merusak ekosistem.
- Percepatan Penanganan Infrastruktur TPA: Memastikan infrastruktur pembuangan akhir segera dibenahi agar air lindi tidak mencemari pemukiman warga.
“Urus Runtah” Jadi Prioritas
Gubernur menegaskan bahwa persoalan sampah adalah hal yang mendesak karena berkaitan dengan polusi udara dan pencemaran air. Ia meminta semua pihak berhenti saling lempar tanggung jawab antara wilayah kota dan kabupaten.
“Pokoknya mah urus runtah (sampah) di Jawa Barat, jangan sampai bikin pusing. Air jangan tercemar, bau jangan mengganggu warga,” tegasnya dengan gaya khasnya yang santai namun lugas.
Di akhir tinjauannya, Dedi Mulyadi sempat menghibur warga dengan pantun dan lagu singkat, mengingatkan bahwa meskipun persoalan sampah sangat serius, kerja sama masyarakat melalui donasi kebersihan dan kedisiplinan membuang sampah tetap menjadi kunci utama.***
Penulis : Clendy Saputra
Editor : Pratigto


























