KARAWANG, Mevin.ID – Banjir tahunan yang merendam Desa Karangligar, Karawang, menjadi perhatian serius Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dalam wawancara terbaru, pria yang akrab disapa KDM ini menegaskan bahwa penanganan Karangligar tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara konvensional karena kondisi geografisnya yang ekstrem.
Dedi mengungkapkan bahwa masalah di Karangligar terbagi menjadi dua faktor utama yang saling berkaitan.
1. Koordinasi Lintas Sektor untuk Normalisasi
Faktor pertama adalah luapan sungai. Terkait hal ini, Dedi mengaku telah bergerak cepat melakukan koordinasi dengan pihak-pihak berwenang begitu debit air meningkat.
“Saya sangat mengenal daerah ini. Saya langsung menghubungi Bupati, berkoordinasi dengan BBWS, PJT, dan PSDA. Penanganan teknis untuk sungai sudah dikomunikasikan agar segera tuntas,” ujar Dedi.
2. Solusi Radikal: Relokasi dan Alih Fungsi Menjadi Danau
Namun, Dedi menekankan bahwa masalah utama Karangligar adalah posisinya yang berada di sebuah cekungan atau “lubang”. Baginya, jika warga tetap bertahan di titik tersebut, masalah banjir tidak akan pernah selesai.
“Tawaran terbaik adalah relokasi. Lebih baik Karangligar dijadikan danau besar yang mampu menampung banyak air di Karawang, lalu warganya kita pindahkan,” tegasnya.
Inovasi Rumah Panggung Tinggi
Sebagai alternatif bagi warga yang masih ingin bertahan di wilayah rawan, Dedi menceritakan pengalamannya membangun contoh hunian adaptif. Ia pernah membangun rumah dengan tiang penyangga setinggi 4 hingga 6 meter dari permukaan tanah.
“Saya sudah beri contoh, rumah yang lantainya setinggi 2,5 meter hingga 4 meter bahkan 6 meter. Saat banjir, lantai atas tidak terendam. Tiang-tiang tersebut terendam, tapi aktivitas di atas tetap aman. Konsep ini bisa dikembangkan,” jelasnya.
Tantangan Psikologis Warga
Dedi tak menampik bahwa kendala terbesar saat ini adalah pola pikir masyarakat. Ia mengamati adanya siklus di mana warga ingin pindah saat air merendam rumah, namun membatalkan niat tersebut saat banjir surut.
“Ini masalahnya. Ketika banjir, semua ingin pindah. Begitu surut, tidak ingin lagi. Padahal, saya sudah sependapat dengan semangat Bupati Karawang bahwa tidak ada cara lain, warga harus pindah atau relokasi,” pungkas Gubernur.***
Penulis : Bar Bernad


























