Agam, Mevin.ID — Matahari baru naik ketika motor trail yang ditunggangi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berhenti di tengah jalur tanah yang ambles dan licin.
Lumpur masih menyisa bau basah yang menusuk, sementara sisa-sisa banjir bandang di Palembayan, Agam, menjelma menjadi pemandangan yang sulit dilupakan: rumah-rumah roboh, kendaraan terguling, batang-batang kayu berserakan seperti potongan hidup yang patah mendadak.
Gibran turun dari motor—tanpa sepatu boots, hanya sepatu biasa yang langsung tenggelam dalam lumpur—lalu menyusuri pemukiman yang nyaris hilang bentuknya.
Di titik ini, puluhan warga masih dinyatakan hilang. Bersama Bupati Agam Benni Warlis, ia berjalan pelan, menyimak cerita para warga yang mencoba berdiri setelah kehilangan hampir segalanya.

Air Mata di Posko Salareh Aia
Di posko pengungsian Kelurahan Salareh Aia, seorang ibu paruh baya memeluk wajahnya sambil menangis tersedu, emosinya pecah saat Gibran menyapanya. Ia mencurahkan rasa takut, kehilangan, dan kebingungan yang mengendap berhari-hari.
Gibran mendengarkan tanpa memotong. Sambil mengangguk perlahan, ia mencatat satu per satu keluhan warga. “Saya mohon maaf, Bapak-Ibu tidak sendiri. Presiden memerintahkan kami mempercepat pemulihan,” katanya, menegaskan bahwa negara hadir bukan sekadar lewat slogan, tetapi lewat tindakan.
Ia memastikan bantuan logistik dipercepat: lewat darat, udara, dan laut. Perbaikan komunikasi, jalan, jembatan, hingga sekolah diprioritaskan, terutama untuk kelompok rentan: anak-anak, ibu hamil, difabel, dan lansia.
Dari Agam ke Batang Toru: Keluhan, Pelukan, dan Jalan yang Terputus
Usai dari Agam, helikopter membawa Gibran ke Batang Toru, Tapanuli Selatan. Warga menyemut, sebagian menangis lega karena akhirnya didatangi pejabat negara setelah berhari-hari terisolasi.
“Ada uang, Pak. Tapi barangnya nggak ada,” keluh seorang ibu mengenai logistik yang belum tiba.
“Bantuannya datang hari ini ya, Bu. Ini karena akses sempat putus,” jawab Gibran menenangkannya.
Ia kembali menyapa warga satu per satu—termasuk seorang nenek yang berdiri menggigil di posko. “Tenang dulu ya, Bu. Ibu di sini saja, aman di pengungsian,” ujarnya lembut.
Akses jalan yang hilang disapu banjir kini hanya disambung sementara dengan batang-batang pohon besar. Gibran mengecek langsung, memastikan jalur darurat bertahan sampai alat berat tiba.
Anak-anak di posko Batu Hula bersorak saat ia membagikan buku dan mainan. Suara mereka—lalu tawa kecil yang pecah di sela tangis orang dewasa—menjadi jeda singkat dari panjangnya trauma yang masih menggantung di udara.

Aceh Singkil: Jembatan Hilang dan Rasa Hormat
Di Aceh Singkil, Gibran menapaki jalan yang pecah seperti kulit bumi yang disobek paksa.
Sebuah rumah panggung berdiri miring di tepi patahan. Lansia pemilik rumah berdiri di teras, menatap lelah.
Gibran menghampirinya, menyalami sambil membungkuk—gestur yang membuat beberapa warga terdiam.
Dari situ ia membagikan sembako, lalu melanjutkan ke Jembatan Anak Laut yang kini lenyap disapu arus. Warga menunggu Gibran dengan sampan—satu-satunya pengganti jembatan yang hilang.
Berakhir di Medan, Tapi Tugas Masih Panjang
Menjelang sore, ia tiba di Lanud Soewondo, Medan, mengecek tumpukan bantuan: air mineral, obat, selimut, kebutuhan darurat lain. Gubernur Sumut Bobby Nasution menemani memastikan distribusi menuju wilayah-wilayah yang masih terputus.
Di akhir kunjungannya, Gibran kembali mengulangi hal yang sama:
“Bapak-Ibu tidak sendiri. Kami di sini untuk Anda semua.”
Di hari itu, Gibran menempuh tiga provinsi, melintasi lumpur, sungai yang meluap, jembatan yang hilang, hingga posko yang dipenuhi anak kecil.
Tetapi lebih dari itu—ia melintasi duka warga yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan keluarga, bahkan kehilangan rasa aman.
Dan di tengah itu semua, ia menawarkan sesuatu yang sederhana tapi berarti: rasa diuwongke.
Karena kadang, sebelum bantuan tiba, kepedulian yang hadir duluanlah yang paling menyelamatkan.***


























