JAKARTA, Mevin.ID – Dunia kini menghadapi ancaman krisis ekonomi serius setelah Iran resmi menutup Selat Hormuz.
Langkah ini merupakan buntut dari serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026). Penutupan jalur vital ini diprediksi bakal mengguncang pasar minyak dunia dan memicu resesi global.
Iran, yang merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC, memegang kendali atas garis pantai Selat Hormuz—jalur perairan paling strategis dalam perdagangan energi global.
Harga Minyak Berpotensi Tembus 100 Dolar AS
Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih sekaligus Presiden Rapidan Energy, memperingatkan bahwa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko ini.
Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz bisa mendorong harga minyak melonjak tajam melewati angka 100 dolar AS per barel.
“Penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama hampir pasti akan memicu resesi global,” ujar McNally sebagaimana dilansir dari CNBC, Minggu (1/3/2026).
Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, harga minyak Brent berada di level 72,48 dolar AS per barel, sementara WTI di posisi 67,02 dolar AS. Namun, para analis memperkirakan harga akan langsung melonjak 5 hingga 7 dolar AS saat perdagangan dibuka kembali.
Asia Paling Terdampak
Data dari Kpler menunjukkan betapa krusialnya jalur ini:
- Lebih dari 14 juta barel per hari minyak mentah mengalir melalui selat ini.
- Sekitar 75% volume minyak tersebut dikirim ke negara-negara Asia, termasuk Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan.
- 20% ekspor gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur ini, terutama dari Qatar.
Jika penutupan berlanjut, diprediksi akan terjadi “perang penawaran” besar-besaran di antara negara-negara pengimpor energi untuk mengamankan stok yang tersisa.
Eskalasi Militer Memperburuk Situasi
Situasi kian mencekam setelah media pemerintah Iran melaporkan serangan rudal balasan ke pangkalan AS di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Serangan ini tidak hanya mengganggu fisik jalur pelayaran, tetapi juga membuat perusahaan asuransi menaikkan tarif kapal tanker secara agresif, atau bahkan menolak memberikan jaminan keamanan bagi kapal yang melintas.
Meskipun pemerintahan Donald Trump dapat memanfaatkan Cadangan Minyak Strategis (SPR) yang berjumlah sekitar 415 juta barel, para ahli menilai kapasitas tersebut mungkin tidak akan cukup jika krisis di Hormuz berlangsung dalam skala besar dan durasi yang lama.
Mevin.ID akan terus memperbarui dampak ekonomi global akibat memanasnya situasi di Timur Tengah ini.***
Editor : Bar Bernad





![BPTJ akan membatasi truk angkutan barang di masa libur Nataru 2023, mulai 24 Desember. [ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/tom]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2026/03/29108-jalan-tol-jakarta-cikampek-ditutup-imbas-demo-buruh-di-cikarang-225x129.webp)





![BPTJ akan membatasi truk angkutan barang di masa libur Nataru 2023, mulai 24 Desember. [ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/tom]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2026/03/29108-jalan-tol-jakarta-cikampek-ditutup-imbas-demo-buruh-di-cikarang-360x200.webp)














