NEW YORK, Mevin.ID – Setelah sempat memicu kekhawatiran global dengan memangkas ribuan staf demi efisiensi Kecerdasan Buatan (AI), IBM kini membawa kabar mengejutkan.
Raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini mengumumkan rencana perekrutan besar-besaran, terutama menyasar lulusan baru (fresh graduate) dan posisi entry level.
Langkah ini menandai pergeseran strategi IBM: AI bukan lagi dianggap sebagai pengganti manusia, melainkan rekan kerja yang membutuhkan pengawasan manusia.
Rekrutmen Naik 3 Kali Lipat
Berdasarkan laporan terbaru, IBM berencana melipatgandakan perekrutan level awal di AS hingga tiga kali lipat sepanjang tahun 2026.
Hal ini kontras dengan kondisi akhir tahun lalu, di mana perusahaan memangkas sekitar 2.700 pekerja atau kurang dari 1 persen dari total karyawan globalnya.
Chief Human Resources Officer IBM, Nickle LaMoreaux, mengungkapkan bahwa posisi yang dibuka justru berada di divisi-divisi yang sebelumnya dianggap paling terancam oleh AI.
Perubahan Deskripsi Kerja: Manusia Jadi “Korektor” AI
IBM mengakui bahwa tugas rutin seperti coding dasar kini memang bisa ditangani oleh AI. Namun, hal itu justru melahirkan kebutuhan baru. Fokus pekerjaan entry level kini dirombak total:
Kemampuan Interaksi: Fokus pada komunikasi dengan klien dan pemahaman kebutuhan bisnis yang tidak bisa dilakukan mesin.
Kontrol Kualitas: Di divisi HR, staf baru kini bertugas mengoreksi keluaran chatbot serta menangani masalah yang gagal dijawab oleh sistem otomatis.
Regenerasi Talenta: IBM menyadari bahwa memangkas posisi awal hanya akan menciptakan kekosongan talenta tingkat menengah di masa depan.
”Pekerjaan entry level dua hingga tiga tahun lalu sebagian besar kini memang dapat dikerjakan oleh AI. Karena itu, kami mengubah fokus peran tersebut agar lebih menonjolkan kemampuan yang tidak mudah diotomatisasi,” jelas LaMoreaux.
Fenomena “Penyesalan AI” di Industri Tekno
IBM bukan satu-satunya yang beradaptasi. Beberapa perusahaan lain mulai menyadari bahwa mengganti manusia sepenuhnya dengan AI tidak selalu berakhir manis:
|
Perusahaan |
Langkah yang Diambil |
Dampak/Hasil |
|---|---|---|
|
Klarna |
PHK 1.200 karyawan demi AI. |
Menyesal. Efisiensi tercapai, namun kualitas produk dan produktivitas tidak meningkat signifikan. Kini kembali rekrut manusia. |
|
Salesforce |
PHK 4.000 staf layanan pelanggan. |
Gunakan sistem “Omni Channel Supervisor” di mana manusia bertugas mengawasi agen AI. |
Pelajaran bagi Jobseeker
Fenomena ini menjadi sinyal kuat bagi para pencari kerja, terutama fresh graduate. AI mungkin mengambil alih tugas teknis yang berulang, namun kemampuan adaptasi, empati, dan pemecahan masalah kompleks tetap menjadi nilai tawar utama manusia yang tak tergantikan.
IBM membuktikan bahwa meski transformasi teknologi berjalan cepat, regenerasi talenta manusia tetap menjadi kunci keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.***


























