Seneca: “Pikiran yang Gelisah akan Masa Depan Adalah Pikiran yang Sengsara”

- Redaksi

Kamis, 10 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DI ERA yang dipenuhi kecemasan dan ketidakpastian, kutipan filsuf Romawi kuno, Lucius Annaeus Seneca, kembali menggema:

The mind that is anxious about the future is miserable.”

(Pikiran yang gelisah akan masa depan adalah pikiran yang sengsara).

Kata-kata ini terasa lebih relevan dari sebelumnya. Dalam dunia yang terus bergerak cepat, banyak orang terjebak dalam bayang-bayang ketakutan akan apa yang belum tentu terjadi.

Seneca mengajak kita berhenti sejenak dan merenung: apakah kita benar-benar hidup di masa kini?

Kecemasan: Musuh Diam dalam Kehidupan Modern

Pikiran modern sering kali dibayangi kata “nanti”:

Nanti kalau gagal…

Nanti kalau kehilangan pekerjaan…

Nanti kalau tidak berhasil…

Ketakutan-ketakutan ini menciptakan ilusi ancaman yang belum tentu nyata.

Namun, efeknya sangat nyata: stres, insomnia, kecemasan kronis, bahkan depresi.

Seperti kata Seneca, kita menyiksa diri sendiri dengan bayangan masa depan yang belum tentu terjadi.

Stoikisme: Seni Hidup di Masa Kini

Filsafat Stoik yang diajarkan Seneca, Marcus Aurelius, dan Epictetus menawarkan jalan keluar: Fokus pada apa yang bisa kita kendalikan, dan lepaskan sisanya.

Berikut empat prinsip Stoik untuk menghadapi ketidakpastian hidup:

1. Bedakan antara yang bisa dan tidak bisa dikendalikan

Fokus pada tindakan, bukan pada hasil akhir.

2. Latih kesadaran penuh (mindfulness)

Hadir seutuhnya dalam setiap momen, bukan hidup dalam “seandainya”.

3. Renungkan kematian (Memento Mori)

Mengingat bahwa hidup itu singkat membuat kita lebih menghargai hari ini.

4. Terima ketidakpastian sebagai bagian dari hidup

Masa depan memang tak bisa ditebak, dan justru di situlah letak keindahannya.

Ilustrasi Nyata: Mahasiswa dan Kecemasan

Bayangkan seorang mahasiswa menjelang ujian akhir. Alih-alih belajar dengan fokus, pikirannya dipenuhi kecemasan:

“Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau mengecewakan orang tua?”

Alih-alih membantunya, pikiran ini justru mengganggunya tidur, merusak konsentrasi, dan menurunkan performanya.

Ia tersiksa bahkan sebelum ujian dimulai. Ini contoh nyata bagaimana pikiran yang gelisah bisa lebih menyakitkan dari kenyataan itu sendiri.

Di Tengah Dunia yang Tak Pasti, Kita Perlu Kepastian Dalam Diri

Perubahan iklim, ketegangan politik, revolusi teknologi—semua menciptakan ketidakpastian.

Tapi kunci ketenangan bukan terletak pada dunia luar, melainkan di dalam: bagaimana kita menata pikiran, persepsi, dan respons kita terhadap dunia.

Seperti kata Seneca, “Segala kekejaman berasal dari kelemahan.” Kekejaman terhadap diri sendiri pun demikian—berakar dari kelemahan kita menaklukkan pikiran sendiri.

Jangan Biarkan Pikiran Menghancurkan Kedamaianmu

Seneca tidak sedang mengajak kita mengabaikan masa depan, tetapi menempatkannya di tempat yang seharusnya: di luar kendali kita.

Dengan hidup lebih sadar, menerima yang tak bisa diubah, dan memaknai setiap hari sebagai anugerah, kita bisa membebaskan diri dari penderitaan yang tidak perlu.

Kebahagiaan sejati bukan soal menjinakkan masa depan, tapi tentang hadir utuh di hari ini.***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan
Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka
Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada
Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar
Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026
Ada Apa dengan BEI dan OJK? Ketika Kepercayaan Pasar Diuji, Negara Harus Hadir Menenangkan
Menagih Janji di Balik Etalase Bandung Utama
Sesar Lembang: Literasi Kebencanaan yang Terabaikan

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 14:45 WIB

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Menetes: Bukan Takdir, Tapi Soal Desain Kebijakan

Kamis, 5 Februari 2026 - 08:23 WIB

Membedah Peluang Emas “Gentengisasi” bagi Kebangkitan Ekonomi Rakyat Majalengka

Selasa, 3 Februari 2026 - 23:30 WIB

Pena Terakhir untuk Mama Reti: Luka di Balik Surat Perpisahan dari Ngada

Senin, 2 Februari 2026 - 20:46 WIB

Bukan Krisis, Tapi Ujian Kepercayaan Pasar

Senin, 2 Februari 2026 - 08:48 WIB

Insiden Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sepanjang Januari 2026

Berita Terbaru