LEBAK, Mevin.ID – Ancaman ular berbisa masih menjadi persoalan serius bagi kesehatan warga Suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten. Sahabat Relawan Indonesia (SRI) mencatat sebanyak 62 warga Badui menjadi korban gigitan ular tanah (Calloselasma rhodostoma) sepanjang tahun 2025.
Mirisnya, dari total puluhan kasus tersebut, 11 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi racun dan keterlambatan penanganan medis.
Faktor Risiko: Bertani di Semak Belukar
Koordinator SRI, Muhammad Arif Kirdiat, menjelaskan bahwa tingginya angka kasus ini tidak lepas dari aktivitas harian warga Badui. Sebagai masyarakat agraris, warga Badui rutin bercocok tanam di ladang dan membuka kawasan hutan perbukitan.
“Mereka berpotensi besar menjadi korban karena ular tanah sering berlindung di balik rerumputan atau semak belukar di area ladang mereka,” ujar Arif dalam keterangannya, Kamis (1/1/2026).
Penyebab Kematian: Terlambat ke Puskesmas
Faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kematian adalah akses dan informasi. Arif menyebutkan bahwa para korban yang meninggal umumnya terlambat dilarikan ke fasilitas kesehatan.
Selain masalah geografis, ketersediaan Serum Anti Bisa Ular (SABU) di puskesmas setempat pada masa lalu juga sempat menjadi kendala. Namun, kini upaya mitigasi terus ditingkatkan melalui keberadaan tiga Poskesdes (Ciboleger, Nangerang, dan Cijahe) serta Klinik SRI yang siap siaga memberikan pertolongan pertama.
Pemprov dan Pemkab Pastikan Stok Serum Aman
Menanggapi risiko yang mengintai 11.600 warga di 68 perkampungan Badui tersebut, Pemerintah Kabupaten Lebak memastikan ketersediaan serum anti bisa ular kini telah terpenuhi.
Kepala Dinas Kesehatan Lebak, Eka Darmana Putra, menyatakan pihaknya telah menyiagakan 5 hingga 10 vial serum di setiap puskesmas penyangga, yakni:
- Puskesmas Cisimeut
- Puskesmas Cirinten
- Puskesmas Bojongmanik
- Puskesmas Muncang
- Puskesmas Sobang
“Kami berterima kasih kepada Pemprov Banten dan Pemkab Lebak. Kini masyarakat bisa segera mendapatkan penanganan medis tanpa harus menunggu lama,” kata Sekretaris Desa Kanekes, Medi.
Warga diimbau untuk tidak lagi mengandalkan pengobatan tradisional semata dan segera melapor ke petugas medis jika terjadi insiden gigitan ular guna mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut.***


























