PAGI ITU, deretan kios di Pasar Anyar, Bogor, terlihat lengang. Hanya beberapa ibu rumah tangga yang berjalan tergesa sambil membawa tas belanja. Di salah satu sudut, Bu Siti—pedagang sayur yang sudah berjualan 15 tahun—menata ikatan kangkung di atas meja kayunya. Tangannya cekatan, tapi wajahnya muram.
“Sekarang beda sekali, Nak,” katanya pelan ketika saya tanyai. “Dulu jam segini ramai sekali. Orang berebut belanja, suara tawar-menawar sampai riuh. Sekarang, satu jam bisa nggak ada yang datang.”
Bu Siti bukan satu-satunya. Banyak pedagang pasar, pemilik warung pinggir jalan, hingga pegawai supermarket merasakan hal yang sama: toko-toko offline makin sepi pembeli.
Dari Pasar ke Ponsel
Di sisi lain kota, Dina, seorang ibu muda, sedang duduk di ruang tamu. Di tangannya, ponsel terbuka pada aplikasi belanja online. “Lebih gampang belanja di sini,” katanya. “Nggak usah keluar rumah, barang bisa langsung diantar, harganya juga lebih murah.”
Fenomena ini menjawab pertanyaan mengapa pasar sepi. Konsumen, terutama generasi muda, lebih memilih belanja online. Harga di marketplace sering kali lebih rendah, apalagi dengan diskon dan ongkir gratis. Toko offline kalah bersaing.
Data menunjukkan tren ini nyata: transaksi e-commerce Indonesia pada 2024 menembus Rp 540 triliun, tumbuh lebih dari 20% dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya, pertumbuhan ritel offline stagnan, bahkan banyak jaringan besar seperti Giant harus menutup gerainya.
Ekonomi Tumbuh, Tapi Kantong Rakyat Kering
Pemerintah kerap mengumumkan kabar baik: pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di kisaran 5%. Tapi kenyataan di lapangan jauh berbeda.
Upah riil pekerja nyaris tak bergerak. Harga beras, daging, sayur, dan biaya transportasi naik lebih cepat daripada gaji. Akibatnya, daya beli rakyat melemah. Fenomena trading down terjadi: yang dulu belanja di supermarket turun ke minimarket; yang dulu di minimarket beralih ke warung atau sekadar belanja kebutuhan pokok.
Bagi pedagang seperti Bu Siti, kondisi ini pukulan ganda: bukan hanya konsumen pindah ke online, tapi juga belanja mereka makin irit.
Mengapa Produsen Pilih Online?
Pertanyaan lain muncul: kalau toko offline sepi, mengapa produsen tidak mempertahankan saluran offline, padahal di online harus membayar potongan besar ke marketplace?
Jawabannya sederhana: online lebih efisien. Produsen tidak perlu bayar sewa ruko, listrik, dan gaji banyak pegawai. Cukup gudang kecil dan tim admin. Satu toko online bisa menjangkau pembeli dari Sabang sampai Merauke.
Selain itu, data konsumen di marketplace sangat berharga. Produsen tahu produk mana yang laris, siapa yang membeli, dan kapan tren belanja naik. Ini data yang tidak pernah bisa mereka dapat dari toko offline.
Potongan 5–15% yang diminta marketplace dianggap kecil dibanding biaya operasional toko fisik.
Apa Dampaknya Jika Tren Ini Terus Berlanjut?
Di pasar Anyar, kios demi kios mulai tutup. Beberapa pedagang memilih beralih pekerjaan. “Kalau begini terus, pasar bisa mati,” kata Bu Siti lirih.
Sepinya toko offline bukan hanya masalah dagangan tak laku. Dampaknya lebih luas:
- Pedagang kecil tersingkir. UMKM yang hidup dari interaksi langsung makin sulit bertahan.
- Ekonomi lokal melemah. Uang belanja rakyat tersedot ke platform besar, sebagian berbasis asing.
- Monopoli digital. Jika hanya segelintir marketplace yang bertahan, konsumen tidak punya banyak pilihan, dan harga bisa dikendalikan mereka.
- Hilangnya ruang sosial. Pasar dan warung bukan hanya tempat transaksi, tapi ruang perjumpaan, interaksi, bahkan solidaritas sosial.
Menjaga Pasar dari Sepi
Kisah Bu Siti di pasar adalah potret nyata wajah ekonomi rakyat. Ia menunggu pembeli yang semakin jarang datang, sementara di ponsel orang lain, keranjang belanja online terus terisi.
Pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan lewat angka makro tidak cukup menjawab kenyataan bahwa daya beli masyarakat melemah. Selama rakyat lebih memilih belanja termurah di marketplace dan produsen hanya fokus online, toko offline akan semakin ditinggalkan.
Negara tidak boleh abai. Digitalisasi UMKM harus digalakkan, insentif untuk pedagang kecil perlu diperluas, dan regulasi terhadap platform besar harus lebih tegas. Karena pada akhirnya, perdagangan bukan hanya soal harga murah dan efisiensi, tapi juga soal kehidupan ribuan orang yang bertumpu pada kios, warung, dan pasar.
Selama hal itu belum terjadi, Bu Siti akan tetap duduk di lapaknya, menunggu pembeli yang kian jarang datang—sebuah kisah senyap dari sepinya toko offline di tengah ramainya dunia digital.***


























