BENGKULU UTARA, Mevin.ID – Kabar duka itu menyebar cepat melalui grup-grup WhatsApp wali murid di Ketahun, Bengkulu Utara.
Seorang siswa kelas 1B di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (28/2/2026), setelah sempat berjuang melawan kondisi medis yang diduga kuat berkaitan dengan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disantapnya di sekolah.
Tragedi ini seketika mengubah antusiasme program nasional menjadi kecemasan kolektif bagi para orang tua siswa.
Kronologi yang Menggetarkan Hati
Semuanya bermula dari keceriaan biasa di sekolah. Siswa tersebut menerima paket MBG berupa burger, pisang, dan kacang hijau.
Namun, keceriaan itu berubah menjadi kepanikan saat gejala gangguan kesehatan mulai muncul usai menyantap hidangan tersebut.
Di grup WhatsApp “Kelas 1B MIN 2 BU”, sebuah imbauan mendesak sempat dikirimkan agar para wali murid segera melarang anak-anak mereka mengonsumsi paket burger yang belum dimakan.
Foto sang bocah yang tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit sempat viral, menjadi potret pilu yang memicu ketakutan luar biasa di kalangan warga.
Polisi Bergerak: Mencari Jejak di Sampel Makanan
Kapolres Bengkulu Utara, AKBP Bakti Kautsar Ali, menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya siswa tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian tidak akan tinggal diam.
“Saat ini kami masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pastinya. Kami sedang menunggu hasil pemeriksaan laboratorium keluar,” tegas Kapolres.
Polisi telah bergerak cepat dengan:
- Mengamankan sampel makanan (roti burger, pisang, dan kacang) untuk uji laboratorium.
- Meminta keterangan dari pihak sekolah dan penyedia makanan (supplier).
- Melakukan audit terhadap tenaga medis yang menangani korban sejak awal masuk rumah sakit.
Meski sejauh ini hanya satu siswa yang dilaporkan mengalami gejala fatal hingga meninggal dunia, polisi tetap melakukan investigasi menyeluruh untuk melihat apakah ada unsur kelalaian dalam standar higienitas distribusi makanan tersebut.
Evaluasi Keamanan Pangan Sekolah
Insiden ini memicu gelombang kritik dan pertanyaan serius mengenai pengawasan program MBG.
Sebelumnya, di wilayah lain seperti Bengkulu Selatan, menu MBG juga sempat mendapat sorotan dan klarifikasi dari pihak penyedia karena porsi dan kualitasnya.
Kematian siswa di Ketahun ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan penyedia jasa boga. Keamanan pangan di sekolah bukan sekadar soal pemenuhan gizi, melainkan menyangkut nyawa yang tak ternilai harganya.
Kini, warga Bengkulu Utara menanti dengan cemas hasil uji laboratorium. Apakah ini murni insiden medis individu atau ada “bom waktu” dalam proses penyediaan makanan massal tersebut?
Jawaban tersebut sangat dinanti demi memastikan tidak ada lagi kursi kelas yang kosong karena alasan yang seharusnya bisa dicegah.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: BengkuluToday


























