BANDUNG, Mevin.ID – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung memastikan kesiapan penuh dalam menghadapi dampak pembangunan fisik jalur Bus Rapid Transit (BRT) yang dimulai pada Februari 2026.
Berbagai skenario pengaturan lalu lintas, mulai dari penempatan petugas hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), akan disiagakan untuk mengantisipasi kepadatan di ruas-ruas utama kota.
Kepala Dishub Kota Bandung, Rasdian Setiadi, mengungkapkan bahwa proyek BRT saat ini memasuki tahap krusial, yaitu pengerjaan jalur khusus atau on corridor.
Dari total 18 rute yang akan dioperasikan, sepanjang 21 kilometer di antaranya merupakan jalur khusus yang akan dilengkapi dengan halte dan separator fisik.
“Yang on corridor progress-nya belum kontrak. Rencananya kontraknya bulan Februari ini. Jadi pembangunan halte maupun separator-nya akan dimulai bulan ini,” ujar Rasdian dalam keterangan resmi Pemkot Bandung, dikutip Minggu (15/2/2026).
Sejumlah ruas jalan protokol yang masuk dalam daftar pembangunan jalur khusus BRT dipastikan akan terdampak. Ruas tersebut meliputi Jalan Sudirman, Rajawali, Pasir Koja, Otista, Dewi Sartika, Banceuy, Naripan, Ahmad Yani, hingga Jalan Jakarta.
Rasdian mengakui, aktivitas pembangunan di titik-titik padat ini hampir pasti akan memicu peningkatan kemacetan.
“Kami akui, pembuatan on corridor dan halte ini pasti akan berdampak pada kelancaran lalu lintas. Untuk itu, antisipasi harus dilakukan sejak dini,” terangnya.
Sebagai langkah konkret, Dishub Kota Bandung akan menerapkan strategi ganda. Pertama, penempatan petugas di titik-titik rawan macet dan koordinasi intensif dengan pihak kepolisian untuk memberlakukan rekayasa lalu lintas jika diperlukan.
“Kami akan terjunkan banyak petugas ke lapangan. Koordinasi dengan kepolisian juga terus kami lakukan untuk menentukan skenario rekayasa seperti apa yang paling efektif,” kata Rasdian.
Kedua, dalam jangka menengah dan panjang, Dishub akan mengoptimalkan penggunaan Intelligent Traffic System (ITS) berbasis AI pada lampu lalu lintas. Sistem yang telah diujicobakan sejak tahun lalu ini dinilai mampu merespons kondisi kepadatan secara otomatis.
“Lampu merah AI ini akan sangat membantu. Jika antrean kendaraan di satu ruas mulai panjang, sistem secara otomatis bisa memperpanjang waktu lampu hijau. Ini adalah solusi modern untuk penanganan kemacetan di tengah proyek pembangunan,” tutur Rasdian.
Untuk merumuskan skema yang komprehensif, Dishub Kota Bandung juga akan menggelar Forum Group Discussion (FGD) bersama Forum Lalu Lintas pada bulan Februari ini.
Diskusi tersebut akan membahas rencana antisipasi jangka pendek, menengah, dan panjang selama masa konstruksi BRT berlangsung.
Pemerintah Kota Bandung berharap dengan segala persiapan ini, dampak negatif terhadap mobilitas warga dapat ditekan seminimal mungkin, sambil terus mengejar target penyelesaian proyek transportasi massal yang dinanti-nantikan masyarakat.***
Penulis : Atep K
Editor : Bar Bernad


























