Jakarta, Mevin.ID – Pemerintah menegaskan target swasembada pangan bukan sekadar slogan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut produksi beras nasional menunjukkan tren meningkat tahun ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
“Tahun lalu kita impor 4,5 juta ton. Tahun ini, kata BPS, produksi beras naik dari 30 juta menjadi 34,77 juta ton,” ujar Zulhas dalam acara Hari Ritel Nasional, Selasa (11/11/2025).
Namun di tengah melimpahnya stok beras Bulog yang mencapai sekitar 4 juta ton, masyarakat masih mengeluhkan kenaikan harga beras. Pemerintah mengakui kondisi tersebut terjadi karena harga gabah secara bertahap dinaikkan untuk meningkatkan pendapatan petani.
“Gabah dari Rp5.500 naik menjadi Rp6.000 dan kini Rp6.500. Jadi harga beras pasti ikut naik. Tapi petani dua kali untung, produksinya naik dan harganya naik,” jelas Zulhas.
Menurutnya, kenaikan harga beras berkontribusi pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang kini berada di angka 124 dari sebelumnya 116. Pemerintah menganggap hal ini sebagai sinyal kesejahteraan petani yang membaik.
Meski begitu, pemerintah menyiapkan skema perlindungan agar daya beli masyarakat berpenghasilan rendah tidak terganggu. Salah satunya melalui beras SPHP Bulog yang dijual di pasar tradisional di bawah harga pasaran.
“Kita bantu lewat beras subsidi untuk masyarakat yang kurang mampu. Intinya pemberdayaan: rakyat harus produktif,” tegas Zulhas.
Pemerintah menyebut upaya peningkatan produktivitas, modernisasi pertanian, dan penguatan pasokan menjadi fokus dalam menjaga stabilitas pangan nasional ke depan.***


























