BEKASI, Mevin.ID – Di pinggir Jalan Raya PU Cimuning, tepat di depan gerbang Perumahan Bekasi Timur Regency 7, kepulan asap tipis membumbung dari sebuah penggorengan besar.
Di balik panasnya minyak, Muchamad Barkim (45) dengan cekatan membalik tahu-tahu dagangannya.
Nama dagangannya unik: “Tahu Sabar Biar Semakin Sabar”. Sebuah nama yang bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan doa sekaligus cerminan realitas hidup sang pemilik.
Sejak tahun 2021, Barkim bersama istrinya, Nur Laela (44), dan kedua anaknya, Rahma Ejar Handika (22) serta Rifki Ramadhan (17), menggantungkan hidup dari butiran tahu goreng ini.
Langkah ini diambil setelah perusahaan developer tempatnya bekerja dulu gulung tikar dihantam badai ekonomi.
“Alhamdulillah, dari hasil dagang tahu goreng ini, hasilnya cukup untuk belanja dapur dan menyekolahkan kedua anak kami,” ujar Barkim saat berbincang dengan tim Mevin.ID, Sabtu (21/2/2026).
Antara Minyak Panas dan Janji Dingin
Bagi warga RT 02/RW 02 Kelurahan Cimuning, Mustika Jaya ini, “Sabar” adalah bahan baku utama dalam menjalankan usahanya.
Namun, kesabaran Barkim kini mulai diuji oleh janji-janji politik yang tak kunjung terealisasi pasca Pemilukada.
Barkim menyoroti betapa sulitnya akses modal bagi pedagang kecil seperti dirinya. Ia memimpikan adanya regulasi kredit lunak tanpa agunan yang benar-benar bisa dijangkau oleh pelaku UMKM akar rumput.
“Hanya pemerintah yang punya kuasa melindungi rakyat kecil dengan regulasi kemudahan pinjaman bank tanpa agunan. Selama ini, perlindungan itu masih sangat kurang,” keluhnya dengan nada getir.
Menagih “Hutang” Suara
Bagi Barkim, kontestasi politik seringkali terasa seperti siklus harapan yang berujung kekecewaan. Ia mengingat betul bagaimana para elit mendatangi pemukiman warga saat masa kampanye, menjanjikan kesejahteraan bagi pedagang kecil.
“Para pejabat terlalu banyak janji-janji saat belum terpilih. Begitu sudah menang dan duduk di kursi empuk, mereka lupa pada janji politiknya saat Pemilukada Kabupaten dan Kota kemarin,” tegas Barkim.
Ia berharap, lewat suara kecilnya dari pinggir jalan Bekasi, para elit yang kini berkuasa bisa tersentak dan mengingat kembali kontrak sosial yang pernah mereka buat dengan warga.
Harapan yang Tetap Digoreng
Meski merasa dianaktirikan oleh sistem, Barkim tidak menyerah. Di sela-sela melayani pelanggan, ia tetap memendam harapan agar pemerintah tidak hanya sibuk dengan urusan makro, tapi juga melihat keringat para pedagang mikro.
“Semoga suara warga kecil seperti saya ini didengar. Supaya para elit ingat akan janji-janjinya,” tutupnya sambil mengemas pesanan pelanggan.
Di Bekasi, Barkim akan terus menggoreng tahu, memupuk sabar, sembari menanti kapan janji-janji manis para pemimpinnya akan “matang” dan bisa dinikmati oleh rakyat kecil seperti dirinya.***
Penulis : Clendy Saputra
Editor : Pratigto


























