BANDUNG, Mevin.ID –Karya-karya sastra Nusantara, baik sastra Indonesia maupun sastra di daerah, dinilai masih terhegemoni oleh kekuasaan kolonial Belanda, dari sejak zaman dulu hingga zaman sekarang.
Demikian intisari yang terungkap dalam Diskusi Kelompok Terpumpun Penyuntingan Buku Ensiklopedi Sastra Nasantara (ESN), yang diselenggarakan di Perpustakaan Ajip Rosidi Jalan Garut Kota Bandung, Rabu (11/02/2026).
Buku Ensiklopedi Sastra Nasional masih dalam proses pematangan dan diskusi, ditulis oleh Rachmat Taufik Hidayat dan akan diterbitkan Pustaka Jaya.
Hadir pada diskusi tersebut Kritikus Sastra Prod. Dr. Maman S. Mahayana, guru besar Nanzan University Jepang Prof. Dr. Mikihiro Mariyama, dan Guru Besar FPBS UPI Prof. Dr. Retty Isnendes M.Hum.
Maman S. Mahayana mengatakan, karya-karya sastra Indonesia di zaman penjajahan Belanda sebenarnya upaya pembebasan dari kolonial.
Oleh karena itu, katanya, karya-karyanya waktu itu besifat mengejek bahkan menghina pemerintahan saat ini. Ia mencontohkan novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer yang menceritakan bagaimana buruknya perilaku orang-orang Belanda.
Karena isi karya sastra yang seperti itu, akhirnya pemerintah Belanda memberangus karya-karya sastra tersebut. Meskipun karya-karya sastra itu tetap ada dan berkembang, namun karya-karya itu diawasi dan disensor ketat oleh Belanda.
Kehadiran Balai Pustaka, katanya, malah cenderung berkolaborasi dan mendukung pemerintah hindia Belanda. Karya-karya di jaman Balai Pustaka, katanya, cenderung menyanjung pemerintah saat ini.
Ia menceritakan bagaimana Belanda secara tidak langsung menciptakan kelas sosial di masyarakat. Dalam cerita Buku Salah Asuhan karya Abdoel Moeis dikisahkan Hanafi menikah dengan Corrie, setelah menceraikan istri sebelumnya Rapiah.
Corrie adalah perempuan peranakan Perancis yang tinggal di Sumatera Barat. Dalam upaya pernikahan dengan Hanafi, tidak berjalan mulus dan mendapat tantangan. Hanafi malah sampai harus mengubah kewarganegaraan yang setingkat dengan orang Eropa.
Penciptaan kelas yang diciptakan penjajah, membuat Hanafi dan Corrie sulit untuk berjodoh. Meskipun akhirnya menikah, namun dikisahkan kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan mulus karena ada upaya-upaya untuk mengahalangi mereka.
Semula memang buku ini seperti menentang adanya kelas sosial di masyarakat. Namun ada satu kalimat yang menyebutkan bahwa bangsa kulit putih adalah bangsa yang kuat dan melindungi. Padahal kalimat yang sebenarnya, ungkapan itu bukan kulit putih melainkan untuk orang Inggris.
“Karena Belanda ingin masuk dalam kategori kuat dan melindungi, diubah menjadi bangsa kulit putih, karena mereka termasuk bangsa kulit putih,” kata Maman.
Pandangan yang sama diungkapkan oleh Prof. Mikihiro Mariyama. Ia menilai draft buku ESN itu bersifat kolonial. Ia mendukung apa yang diungkapkan Maman S. Mahayana bahwa materi buku ini dipengaruhi oleh pemikiran kolonial Belanda.
Mikihiro malah menyarankan judul buku tersebut ditambahkan dengan kata Ekosistem, yakni Ensiklopedia Ekosistem Sastra Nusantara.
Ia juga mengingatkan bahwa buku ini punya saingan secara digital, yakni Wikipedia dan AI (Artificial Intelligence). Orang dengan mudah menemukan entri-entri kesusastraan di internet melalui aplikasi-aplikasi tersebut. Ini akan menjadi saingan buku ESN ini karena lebih praktis dan mudah.
Penulis Buku ESN, Rachmat Taufik Hidayat, mengatakan buku penulisan buku ini dimaksudkan untuk menyajikan dan memberikan data-data tentang kesusatraan secara lengkap dan benar. Saat ini data-data kesusatraan yang banyak yang keliru, baik dari aspek data maupun dukungan yang lainnnya.
Rachmat mengatakan, ia memiliki sumber-sumber primer yang didapat dari penelitian dan pencarian data selama hampir 20 tahun. Proses penulisan rancangan buku ini, katanya, dimulai sejak 2007. Itu sebabnya, kata Rachmat, ia tidak khawatir dengan AI ataupun wikipedia, karena memiliki kelengkapan data dan sumber primer. ***
Penulis : Ude D Gunadi


























