BANDUNG BARAT, Mevin.ID – Kekhawatiran kembali menyelimuti warga Kabupaten Bandung Barat, khususnya di Kecamatan Cisarua, setelah ditemukannya fenomena tanah amblas dan retakan besar di kawasan perkebunan.
Kejadian ini terpantau di Kampung Cimeta, yang berada di lereng Gunung Burangrang, mengingatkan kembali pada trauma longsor dahsyat Pasirlangu yang menelan puluhan korban jiwa.
Informasi yang beredar dari warga setempat, termasuk melalui unggahan video TikTok oleh Deni Supriatna, memperlihatkan bentangan retakan tanah yang cukup luas dan dalam. Retakan tersebut membelah lahan-lahan perkebunan warga.
Yang mencemaskan, posisi retakan dan tanah yang ambles berada tepat di atas area permukiman penduduk, meningkatkan risiko bahaya yang signifikan.
Dalam video yang beredar, terdengar imbauan agar warga meningkatkan kewaspadaan ke tingkat siaga 1 terhadap potensi tanah longsor.
Hal ini menunjukkan keseriusan ancaman yang dihadapi. Pihak berwenang dan relawan diperkirakan telah bergerak untuk memantau dan mengevakuasi jika diperlukan, meskipun laporan resmi masih ditunggu.
Fenomena alam ini langsung memicu respon keprihatinan dan doa dari netizen. Unggahan informasi tersebut kerap disertai kalimat “Bismillah, semoga tidak ada lagi longsor besar di Bandung Barat. Tetap waspada ya baraya, sama-sama berdoa yang terbaik.” Ungkapan ini merefleksikan harapan bersama di tengah memori kelam bencana serupa di masa lalu.
Trauma warga Cisarua terhadap bencana longsor masih sangat hidup. Beberapa waktu lalu, Kampung Pasirlangu di kecamatan yang sama pernah dilanda tragedi longsor dahsyat yang menewaskan puluhan orang.
Kejadian di Cimeta ini mengingatkan semua pihak bahwa kawasan perbukitan Bandung Barat tetap rentan terhadap gerakan tanah, terutama di musim hujan.
Warga di sekitar lokasi diminta untuk untuk:
1. Mematuhi imbauan siaga 1 dari pihak berwenang.
2. Segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika diminta atau jika kondisi dirasa memburuk.
3. Menghindari area retakan dan tebing yang curam.
4. Melaporkan perkembangan terkait retakan atau pergerakan tanah kepada aparat setempat.
Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, dan senantiasa mengikuti informasi terpercaya dari sumber resmi. Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan kolektif adalah kunci untuk meminimalisir risiko korban jiwa.***
Penulis : Atep K
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: TikTok Deni Supriatna


























