Tangis Pecah Reporter CNN Indonesia di Aceh Tamiang: “Rakyat Kibarkan Bendera Putih, Anak-Anak Kelaparan”

- Redaksi

Kamis, 18 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tamiang, Mevin.ID –  Sebuah momen emosional terekam dalam siaran langsung CNN Indonesia pada Rabu (17/12/2025). Reporter Irine Wardhanie tak kuasa membendung air mata saat melaporkan kondisi terkini banjir bandang di Aceh Tamiang.

Di hadapan kamera, ia mengungkap kenyataan pahit yang kontras dengan klaim pemerintah pusat: kondisi warga tidak berubah dan bantuan sangat minim.

Simbol Keputusasaan: Bendera Putih dan Surat ke Internasional

Dalam laporannya yang bergetar, Irine menyebutkan bahwa selama sepekan dirinya berada di lokasi, tidak ada perubahan signifikan dalam penanganan bencana. Kondisi ini memicu keputusasaan mendalam bagi warga Aceh yang terdampak.

“Seminggu saya berada di Aceh, tidak ada perubahan. Maka wajar jika rakyat Aceh mengibarkan bendera putih sebagai tanda penyerahan diri kepada pemerintah,” ujar Irine sambil terisak.

@supriadi_cnnTangisan Irine Wardhanie | Jurnalis CNN Indonesia TV Saat Menceritakan dan memberitakan kondisi Aceh Tamiang yang hingga hari ini Rabu, 17 Desember 2025 Masih Ada Warga Yang Kelaparan. #cnnindonesia #news #bencanasumatera #acehtamiang #acehbarat♬ suara asli – UPIENZ – UPIENZ

Keputusasaan tersebut bahkan mendorong warga untuk bertindak sendiri dengan mengirimkan surat permohonan bantuan kepada lembaga internasional seperti UNDP dan UNICEF.

Langkah ini diambil karena warga merasa bantuan dari negara tidak kunjung mencukupi kebutuhan dasar mereka setelah tiga minggu bertahan di tengah bencana.

Anak-Anak Meminta Makan di Pinggir Jalan

Irine membagikan kesaksian pilu mengenai anak-anak di daerah terpencil yang terpaksa berdiri di pinggir jalan dengan pakaian lusuh demi meminta bantuan makanan.

“Tidak pantas bagi anak-anak untuk berdiri di pinggir jalan meminta makanan. Mereka seharusnya berada di tempat aman, makan makanan bergizi, dan kembali ke sekolah dengan sehat. Tapi faktanya, masih banyak anak yang tidak makan,” lapornya.

Meski personel TNI, Polri, dan ribuan sukarelawan telah dikerahkan untuk memperbaiki infrastruktur listrik dan akses jalan di tengah hujan lumpur, Irine menekankan bahwa skala bencana ini jauh melampaui kapasitas bantuan yang ada saat ini.

Para relawan mulai kelelahan, sementara akses ke titik-titik terdalam masih sangat sulit dijangkau.

Kontras Narasi: Lapangan vs Istana

Laporan emosional dari Aceh Tamiang ini memantik tanya besar di ruang publik. Pasalnya, di saat yang sama, Presiden Prabowo Subianto berulang kali menyatakan bahwa situasi bencana di Aceh masih terkendali dan negara mampu menangani tanpa perlu menetapkan status bencana nasional.

Dua narasi ini bertabrakan keras. Di satu sisi, pemerintah menampilkan optimisme dan kemandirian negara. Di sisi lain, jurnalis di lapangan menyaksikan warga yang kelaparan, layanan dasar yang lumpuh, hingga pengibaran bendera putih sebagai simbol menyerah terhadap keadaan.

Pesan Terakhir dari Garis Depan

Mengakhiri laporannya, Irine Wardhanie menyampaikan bahwa ini kemungkinan menjadi siaran langsung terakhirnya dari Aceh. Ia merasa memiliki beban moral untuk mengungkap kebenaran yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

“Kami dipercayakan untuk menyampaikan pesan sebagai jurnalis untuk mengungkap kebenaran tentang Aceh. Dan ini sulit bagi kami,” tutupnya sebelum menyerahkan kembali siaran kepada pembawa acara di studio, Heranof Al-Basyir.

Pihak redaksi CNN Indonesia menyatakan akan segera melakukan dialog dengan pihak Istana untuk menanyakan alasan pemerintah belum meminta bantuan internasional dan bagaimana tanggapan negara terhadap masih banyaknya titik bencana yang belum tersentuh bantuan hingga pekan ketiga.***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diperas Senior, Mahasiswi Kedokteran PPDS Unsri Nyaris Bunuh Diri
Tangis Pilu di Ruang MK: Anak Wartawan Eva Pasaribu Pertanyakan Keterbukaan Hukum Kasus Oknum TNI
Alasan KPK Seret Ono Surono dalam Kasus Korupsi Bupati Bekasi
KLH Gugat Rp4,8 Triliun ke 6 Perusahaan Penyebab Banjir Sumut
KPK Cecar Ono Surono Soal Aliran Uang Kasus Korupsi Bupati Bekasi Ade Kuswara
BMKG Tetapkan Status Awas, 3 Provinsi Ini Berpotensi Hujan Lebat & Banjir
KPK Tegaskan Punya Bukti Ketua PBNU Kasus Korupsi Kuota Haji
Kasus Korupsi Ade Kunang, Benarkah KPK Periksa Wakil Ketua DPRD Jabar Ono Surono? 

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 12:33 WIB

Diperas Senior, Mahasiswi Kedokteran PPDS Unsri Nyaris Bunuh Diri

Jumat, 16 Januari 2026 - 07:32 WIB

Tangis Pilu di Ruang MK: Anak Wartawan Eva Pasaribu Pertanyakan Keterbukaan Hukum Kasus Oknum TNI

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:30 WIB

Alasan KPK Seret Ono Surono dalam Kasus Korupsi Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:00 WIB

KLH Gugat Rp4,8 Triliun ke 6 Perusahaan Penyebab Banjir Sumut

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:40 WIB

KPK Cecar Ono Surono Soal Aliran Uang Kasus Korupsi Bupati Bekasi Ade Kuswara

Berita Terbaru