Jakarta, Mevin.ID – Dalam momentum Hari Guru Nasional 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto membagikan sebuah kisah yang mencuri perhatian banyak guru.
Di hadapan ribuan pendidik, Prabowo menegaskan bahwa sopan santun di sekolah bukan hanya aturan, tetapi fondasi karakter bangsa.
Ia bercerita pernah menerima laporan saat menjabat Menteri Pertahanan. Sebuah sekolah di bawah Kemenhan menghadapi kasus murid yang bersikap tak sopan kepada guru—menjawab dengan nada tinggi hingga membanting pintu.
Kepala sekolah langsung mengambil tindakan tegas: siswa tersebut diberhentikan.
Belakangan, pihak sekolah mengetahui bahwa siswa itu adalah anak seorang jenderal. Situasi pun menjadi canggung, bahkan membuat kepala sekolah sempat ragu.
“Tahu-tahu kepala sekolahnya agak grogi karena yang diberhentikan itu anak Jenderal. Kepala sekolahnya telepon saya. Saya bilang, ‘Nggak usah ragu-ragu. Mana jenderal itu, suruh menghadap saya.’” kata Prabowo sambil disambut riuh tepuk tangan.
Menurutnya, jabatan dan garis keluarga tidak bisa menjadi tiket untuk bertindak semena-mena. Prabowo bahkan menunggu jika sang jenderal ingin protes—yang pada akhirnya tak pernah datang.
Dengan gaya khasnya, Prabowo menekankan bahwa anak-anak dari kalangan pejabat justru harus lebih menunjukkan keteladanan.
“Kalau bapaknya orang besar, anaknya harus lebih sopan, lebih baik. Jangan kurang ajar. Kalau bapaknya tokoh, pemimpin, jenderal—anaknya harus lebih tertib.”katanya.
Kisah tersebut menjadi pengingat keras di tengah berbagai problem pendidikan: bahwa guru harus dihormati, dan bahwa keberanian mengambil keputusan demi menjaga adab tidak boleh dikompromikan.
Dalam suasana Hari Guru, pesan Prabowo mengalir seperti penegasan moral: pendidikan tidak hanya mengajar pengetahuan, tetapi membangun karakter—dan itu dimulai dari keberanian para pemimpin sekolah untuk bersikap adil, meski ada tekanan siapa pun di belakangnya.***

























