Majalengka, Mevin.ID – Dari luar, rumah itu tampak biasa. Tapi di dalam salah satu kamar di Desa Lengkong, Kecamatan Sindangwangi, seorang laki-laki 22 tahun meregang nyawa. Ia sekarat, kelaparan, terluka—dan dikurung oleh kekasihnya sendiri, seorang mahasiswi berinisial APA (21).
Semua terungkap Sabtu sore (3/5), ketika APA panik dan membawa jenazah sang pacar ke RSUD Majalengka. Tapi kematian itu tak bisa ditutupi dengan selembar kain penutup jenazah.
“Dari hasil autopsi, korban mengalami luka serius di wajah dan tubuh, tidak wajar. Ini bukan kematian biasa,” kata Kapolres Majalengka AKBP Willy Andrian.
Kronologi: Dari Cinta, Menjadi Kekerasan
Korban dijemput oleh pelaku sejak Selasa (30/4). Bukannya dibawa jalan-jalan atau makan di warung pinggir sawah, ia malah dikurung di kamar. Di situlah segalanya memburuk.
Ketika korban ingin pulang ke rumah orang tuanya, pelaku diduga murka. Telepon genggam menjadi senjata, selain tangan kosong. Wajah korban lebam. Nafasnya sesak. Tapi lebih dari itu: ia dibiarkan membusuk dalam kesakitan selama tiga hari, hanya diberi makan dan disuruh buang air di botol dan popok.
“Saat pelaku keluar rumah, kamar dikunci dari luar agar tidak ketahuan orang tua,” kata Kapolres.
Hubungan 3 Tahun, Akhir Berdarah
Pasangan ini disebut telah menjalin hubungan selama tiga tahun. Pelaku mengaku merasa “telah merawat korban selama setahun.” Tapi tak satu pun pernyataan cinta bisa membenarkan tindakan yang berakhir di balik jeruji.
APA kini menyandang status tersangka. Ia dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan Pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian.
“Ada niat untuk menyembunyikan jenazah. Bahkan sempat ditaruh di bagasi mobil,” kata Kasat Reskrim AKP Ari Rinaldo.
Tindakan itu melibatkan pihak lain, teman pelaku berinisial TD. Polisi masih mendalami apakah akan ada tersangka tambahan.
Jejak Luka dan Pertanyaan Publik
Kasus ini mengejutkan banyak orang. Bagaimana mungkin seorang perempuan muda, seorang mahasiswa, bisa melakukan kekerasan sekejam itu? Apakah ada riwayat gangguan mental? Atau ini bentuk hubungan abusif yang terabaikan?
Polisi belum bicara banyak soal motif psikologis. Tapi publik keburu bertanya: berapa banyak korban kekerasan dalam hubungan yang tidak pernah terungkap?***


























