Jakarta, Mevin.ID – Hari Ibu sering kali identik dengan bunga, kebaya, dan tutur kata yang lembut. Namun, sejarah Indonesia mencatat seorang “Ibu” yang memilih cara berbeda untuk mencintai tanah airnya: memangkas rambut hingga cepak, memanggul senapan Lee Enfield, dan menyelinap di antara desing peluru dengan identitas laki-laki.
Ia adalah The Sin Nio, perempuan keturunan Tionghoa asal Wonosobo yang namanya nyaris terhapus dari memori kolektif bangsa.
Di tengah perayaan Hari Ibu, kisahnya kembali memanggil kita untuk memaknai ulang arti pengorbanan dan nasionalisme yang melampaui sekat gender serta etnis.
Menyamar Demi Republik
Pada masa revolusi, ruang bagi perempuan di medan tempur hampir tidak ada. Ditambah lagi, warga keturunan Tionghoa kerap berada dalam posisi sulit, sering dicurigai loyalitasnya oleh kedua belah pihak. Namun, Sin Nio mendobrak kedua tembok besar tersebut.
Demi bisa mengangkat senjata, ia menanggalkan identitas kewanitaannya. Ia mengubah namanya menjadi Mochamad Moeksin. Dengan pakaian prajurit dan sikap yang gagah, ia berhasil bergabung dengan Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18 di Jawa Tengah.
Bukan sekadar perawat di garis belakang, “Moeksin” adalah pejuang garis depan. Bermodalkan bambu runcing dan golok pada awalnya, ia membuktikan keberaniannya hingga berhasil merebut senapan musuh dalam sebuah pertempuran.
Selama bertahun-tahun, rekan sejawatnya mengenal dia sebagai prajurit pria yang tangguh, tanpa tahu bahwa di balik seragam lusuh itu, detak jantung seorang perempuanlah yang berdegup demi kemerdekaan.
Keadilan yang Datang Terlambat
Setelah badai perang mereda, identitas aslinya terungkap. Namun, alih-alih sambutan pahlawan, Sin Nio justru berhadapan dengan tembok birokrasi yang dingin.
Statusnya sebagai pejuang baru diakui secara resmi oleh Mahkamah Militer Yogyakarta pada 29 Juli 1976—puluhan tahun setelah kemerdekaan diproklamirkan.
Ironisnya, pengakuan itu tidak serta-merta mengubah nasibnya. Di masa tuanya, “Ibu Bangsa” ini justru menjalani hidup yang getir.
Sin Nio sempat hidup berpindah-pindah dan menghabiskan sisa harinya di sebuah gubuk kecil di pinggiran rel kereta api di Jakarta.
Sosok yang dulu merebut senapan Belanda itu, harus berjuang melawan kemiskinan di tanah yang ia merdekakan sendiri.
Refleksi Hari Ibu: Nasionalisme Tanpa Sekat
The Sin Nio wafat pada tahun 1985. Ia pergi dalam sunyi, tanpa upacara besar atau monumen megah atas namanya. Namun, warisannya tetap hidup sebagai bukti bahwa nasionalisme Indonesia tidak dimonopoli oleh satu golongan atau gender tertentu.
Di momen Hari Ibu ini, kisah Sin Nio mengingatkan kita bahwa kasih ibu tidak hanya termanifestasi dalam belaian, tetapi juga dalam keberanian luar biasa untuk melindungi masa depan anak cucu bangsanya.
Ia adalah pengingat bahwa di balik megahnya narasi sejarah, ada nama-nama kecil yang sengaja tersisih, namun memiliki kontribusi yang tidak kalah besar.
The Sin Nio adalah cermin bahwa menjadi Indonesia adalah tentang tindakan, bukan sekadar identitas yang melekat sejak lahir.***
Penulis : Bar Bernad


























