SUBANG, Mevin.ID – Kondisi memprihatinkan menyelimuti ratusan warga Pamanukan, Kabupaten Subang, yang terdampak banjir.
Sudah tiga malam, para pengungsi terpaksa bertahan di kolong flyover Pamanukan dengan fasilitas yang sangat minim, tanpa tenda maupun penerangan yang memadai.
Hingga Rabu (28/1/2026), debit air yang merendam pemukiman warga belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Akibatnya, warga dari berbagai usia—mulai dari balita, anak-anak, hingga lansia—harus tidur beralaskan tikar dan kardus di ruang terbuka.
Bertaruh Nyawa di Tengah Dingin dan Kegelapan
Nuraeni, salah satu pengungsi, mengungkapkan keluhannya terhadap minimnya bantuan fasilitas tidur. Ia mengaku harus melawan cuaca ekstrem dan gigitan nyamuk setiap malam tanpa selimut yang layak.
“Sangat dingin sekali. Saya tidak masalah, tapi kasihan balita yang masih di bawah dua tahun harus kedinginan. Hampir tiap malam hujan deras dan di sini gelap gulita tanpa lampu,” ujar Nuraeni dengan nada pilu.
Senada dengan Nuraeni, Asep Hidayat, warga terdampak lainnya, mendesak BPBD dan pemerintah daerah untuk segera mendirikan tenda darurat. Menurutnya, kondisi tidur di ruang terbuka sangat berisiko bagi kesehatan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Bantuan Logistik Ricuh dan Tidak Merata
Selain masalah tempat tinggal, distribusi bantuan logistik juga menjadi sorotan. Warga melaporkan bahwa bantuan sejauh ini hanya berupa makanan siap saji, namun jumlahnya tidak mencukupi sehingga sering terjadi kericuhan saat pembagian.
“Bantuan makanan selalu berebut karena takut tidak kebagian. Ada yang sampai tidak makan hanya bisa gigit jari,” tambah Nuraeni.
Ketidakmerataan distribusi juga dikeluhkan oleh warga di wilayah lain seperti Kadung Gede Mulyasari. Agus, warga setempat, menyebut bantuan cenderung hanya terpusat di titik pengungsian flyover dan masjid besar.
Sementara itu, warga yang memilih bertahan di lantai dua rumah atau di majelis taklim kecil justru luput dari perhatian.
“Kami meminta bantuan didistribusikan secara door-to-door. Jangan hanya di lokasi pengungsian utama, karena banyak warga di dalam lokasi banjir yang juga menahan lapar,” tegas Agus.
Kebutuhan Mendesak Pengungsi
Hingga saat ini, para pengungsi sangat membutuhkan uluran tangan berupa:
- Tenda pengungsian yang layak.
- Kasur lantai, karpet, dan selimut.
- Alat penerangan darurat.
- Perlengkapan bayi (Pampers dan susu).
- Fasilitas MCK portabel.
Warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan instan seperti mi instan atau nasi bungkus, tetapi juga solusi jangka panjang dan fasilitas dasar yang menjamin martabat mereka selama di pengungsian.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: Kompas

























