TEHERAN, Mevin.ID – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi mengumumkan peluncuran serangan militer masif terhadap Republik Islam Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Dalam pidato kenegaraan yang disiarkan secara global, Trump memberikan ultimatum keras kepada militer Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), untuk segera meletakkan senjata atau menghadapi kehancuran total.
Ultimatum Keras Donald Trump
Presiden Trump secara spesifik menargetkan jajaran angkatan bersenjata dan kepolisian Iran dalam peringatannya. Ia menjanjikan kekebalan bagi mereka yang menyerah.
“Letakkan senjata kalian dan dapatkan kekebalan penuh, atau jika tidak, hadapi kematian yang pasti,” tegas Trump dalam pidatonya.
Tak hanya kepada militer, Trump juga menyampaikan pesan provokatif kepada warga sipil Iran. Ia mendesak rakyat Iran untuk memanfaatkan momentum serangan udara ini guna menggulingkan pemerintahan yang telah berkuasa sejak revolusi 1979.
“Jam kebebasan Anda sudah dekat. Setelah operasi kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Ini mungkin menjadi satu-satunya kesempatan bagi Anda selama beberapa generasi ke depan,” seru Trump.
Teheran Digempur Ledakan Dahsyat
Laporan lapangan mengonfirmasi bahwa militer AS, bekerja sama dengan pasukan Israel, telah memulai rentetan serangan udara dan rudal terkoordinasi. Fasilitas militer dan infrastruktur strategis di berbagai wilayah Iran menjadi target utama.
Saksi mata melaporkan ledakan besar terdengar di ibu kota Teheran, serta kota-kota besar lainnya seperti Isfahan dan Shiraz. Kepulan asap hitam pekat membubung tinggi di dekat instalasi militer Teheran, sementara sistem pertahanan udara Iran terus bekerja keras menghalau proyektil yang masuk.
Situasi Mencekam
Hingga berita ini diturunkan, kondisi di Iran dilaporkan sangat mencekam. Langit di atas kota-kota terdampak terang benderang oleh kilatan ledakan dan tembakan antipesawat.
Pihak Teheran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait jumlah korban jiwa maupun total kerusakan infrastruktur. Sementara itu, komunitas internasional kini menahan napas menunggu respons balasan dari Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei atas agresi gabungan ini.***
Editor : Bar Bernad

























