Tradisi Unik Iduladha di Berbagai Daerah Indonesia yang Terus Dilestarikan

- Redaksi

Sabtu, 7 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Mevin.ID – Bagi umat Muslim Indonesia yang tidak menjalankan ibadah haji, Hari Raya Iduladha tetap menjadi momen yang sangat dinanti. Selain sebagai perayaan keagamaan, Iduladha juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama.

Identik dengan penyembelihan hewan kurban seperti sapi, kambing, atau domba, perayaan Iduladha di berbagai daerah di Indonesia juga diwarnai oleh beragam tradisi lokal yang unik. Tradisi-tradisi ini bukan hanya menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat.

Berikut 11 tradisi Iduladha paling unik dari berbagai daerah di Tanah Air:

1. Meugang (Aceh)

📍 Aceh

Tradisi Meugang (atau Makmeugang) sudah berlangsung selama ratusan tahun. Menjelang hari-hari besar Islam, masyarakat Aceh memasak daging sapi atau kerbau untuk disantap bersama keluarga. Tradisi ini berakar dari masa Kesultanan Aceh sebagai simbol syukur dan kemakmuran.

2. Apitan (Semarang)

📍 Semarang, Jawa Tengah

Apitan merupakan bentuk syukur atas rezeki berupa hasil bumi. Dalam tradisi ini, warga membawa hasil pertanian dan ternak untuk diarak, lalu diperebutkan oleh masyarakat. Dimeriahkan juga oleh hiburan lokal, Apitan memperlihatkan eratnya semangat berbagi dan kebersamaan.

3. Grebeg Gunungan (Yogyakarta)

📍 Yogyakarta

Tradisi Keraton ini menghadirkan tiga “gunungan” berisi hasil bumi yang diarak menuju Masjid Gede Kauman. Warga percaya bahwa mendapatkan bagian dari gunungan akan membawa berkah. Grebeg Gunungan menjadi simbol kolaborasi budaya dan spiritualitas.

4. Manten Sapi (Pasuruan)

📍 Pasuruan, Jawa Timur

Sapi kurban dihias seperti pengantin, lengkap dengan kain kafan, bunga, dan sajadah, sebelum diarak menuju masjid. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap hewan kurban dan sarana memperkuat rasa kebersamaan lewat konsumsi daging secara kolektif.

5. Gamelan Sekaten (Cirebon & Surakarta)

📍 Cirebon & Surakarta

Gamelan Sekaten menjadi penanda hari besar Islam, termasuk Iduladha. Alunan musik gamelan ini dipercaya berasal dari dakwah para Wali, khususnya Sunan Gunung Jati. Di Surakarta, gamelan dimainkan usai salat Id, ditemani kebiasaan mengunyah kinang (sirih) yang diyakini membawa panjang umur.

6. Mepe Kasur (Banyuwangi)

📍 Banyuwangi, Jawa Timur

Suku Osing memiliki tradisi menjemur kasur (mepe kasur) bercorak merah dan hitam. Kasur dijemur di halaman rumah sebagai simbol pembersihan diri, penolak bala, dan harapan keharmonisan keluarga menjelang hari raya.

7. Accera Kalompoang (Gowa, Sulawesi Selatan)

📍 Gowa, Sulsel

Dilaksanakan selama dua hari, tradisi ini melibatkan penyucian benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Gowa. Warna merah dan hitam dalam kasur dan atribut adat melambangkan keberanian dan kekekalan. Acara ini sarat nuansa spiritual dan historis.

8. Toron & Nyalase (Madura)

📍 Pulau Madura

Toron adalah tradisi mudik menjelang Iduladha. Setelah salat Id, masyarakat Madura melakukan nyalase—ziarah ke makam leluhur. Tradisi ini memperlihatkan ikatan keluarga yang kuat dan penghormatan mendalam terhadap nenek moyang.

9. Ngejot (Bali)

📍 Bali

Warga Muslim di Bali merayakan Iduladha dengan berbagi makanan kepada tetangga non-Muslim. Tradisi Ngejot adalah simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang kuat di Pulau Dewata.

10. Kaul Negeri & Abda’u (Maluku Tengah)

📍 Tulehu, Maluku Tengah

Dalam tradisi ini, pemuka adat dan agama membawa kambing kurban keliling desa sambil bertakbir. Ritual ini diyakini mampu menolak bala dan mendatangkan berkah bagi masyarakat desa.

11. Gamelan Sekaten (Surakarta)

📍 Surakarta, Jawa Tengah

Seperti di Cirebon, tradisi gamelan Sekaten di Surakarta juga meramaikan Iduladha. Alunan musik sakral disambut dengan antusias oleh masyarakat yang berkumpul, menciptakan suasana sakral sekaligus meriah.

Mengapa Tradisi Ini Penting?

Di tengah era modern yang serba digital, keberadaan tradisi seperti ini adalah pengingat akar budaya dan nilai luhur masyarakat kita. Tradisi-tradisi ini menjaga semangat silaturahmi, gotong royong, dan toleransi, yang menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia.

Selamat Iduladha. Mari rayakan bukan hanya dengan kurban, tapi juga dengan melestarikan kebaikan dan nilai-nilai luhur budaya kita.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelebihan Muatan 1 Ton, Perahu Sound Horeg Tenggelam di Sidoarjo Saat Tradisi Nyadran
Pulihkan Sumatera, ITENAS Gelar Konser Amal dan Lelang Barang pada 12 Februari
Konten ‘Pacar 1 Jam’ Berujung Pidana: Shandy Logay Resmi Jadi Tersangka Kasus Eksploitasi Anak
Pedagang Es Kue Gabus Korban Fitnah Aparat Dapat Hadiah Umroh dari Selebgram Malaysia
Duka Mendalam, Istri Pesulap Merah Meninggal Dunia Usai Berjuang Melawan Sakit
Dunia Hiburan Berduka: Selebgram Lula Lahfah Ditemukan Meninggal Dunia di Apartemennya
Memungut Serpihan Masa Lalu dalam “Broken Strings”. Belum Baca? Ini Linknya.
Menikah dengan Adat Jawa, Darma Mangkuluhur Undang Brian McKnight di Malam Resepsi

Berita Terkait

Minggu, 8 Februari 2026 - 11:00 WIB

Kelebihan Muatan 1 Ton, Perahu Sound Horeg Tenggelam di Sidoarjo Saat Tradisi Nyadran

Sabtu, 7 Februari 2026 - 16:07 WIB

Pulihkan Sumatera, ITENAS Gelar Konser Amal dan Lelang Barang pada 12 Februari

Jumat, 30 Januari 2026 - 11:21 WIB

Konten ‘Pacar 1 Jam’ Berujung Pidana: Shandy Logay Resmi Jadi Tersangka Kasus Eksploitasi Anak

Kamis, 29 Januari 2026 - 15:31 WIB

Pedagang Es Kue Gabus Korban Fitnah Aparat Dapat Hadiah Umroh dari Selebgram Malaysia

Selasa, 27 Januari 2026 - 19:44 WIB

Duka Mendalam, Istri Pesulap Merah Meninggal Dunia Usai Berjuang Melawan Sakit

Berita Terbaru

Berita

Gegara Data Pelamar Bocor, Komdigi Nonaktifkan 3 Pejabat

Rabu, 11 Feb 2026 - 14:44 WIB