Bandung, Mevin.ID — Suasana Minggu pagi di Kompleks Militer Angkub Bengrad, Jalan Turangga, berubah menjadi kepanikan ketika api tiba–tiba membubung dari deretan rumah petak.
Di tengah kepulan asap dan teriakan warga, sebuah kabar duka menyayat: Zakaria Eka Candra, pemuda 23 tahun dengan kebutuhan khusus, ditemukan tak bernyawa.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bandung bergerak cepat setelah menerima laporan pukul 10.52 WIB. Hanya dalam lima menit, petugas sudah tiba di lokasi dan mendapati enam rumah yang berdempetan telah dilalap api.
“Korban sudah tidak dapat diselamatkan dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Sartika Asih,” ujar Kepala Dinas Damkarmat Kota Bandung, Soni Bakhtiyar.
Sebanyak 10 unit mobil pemadam diturunkan. Di kawasan padat seperti Turangga, api bergerak cepat—terbantu tiupan angin dan material bangunan yang mudah terbakar. Petugas melakukan penyekatan dari berbagai arah untuk mencegah kobaran merembet lebih jauh.
Sumber api, kata Soni, berasal dari anak salah satu pemilik rumah yang bermain api di dekat kompor.
Percikan kecil berubah menjadi kobaran besar hanya dalam hitungan menit, menyambar dinding rumah lain yang berdekatan.
Upaya pemadaman berlangsung intens selama 1 jam 21 menit hingga api akhirnya dinyatakan padam seluruhnya.
Di balik angka, kronologi, dan prosedur pemadaman, tragedi itu menyisakan satu kehilangan yang tak bisa dikembalikan: seorang anak dengan kebutuhan khusus yang selama ini dirawat dengan penuh perhatian oleh keluarganya.
Pagi itu, Turangga bukan hanya kehilangan deretan rumah—tapi juga kehilangan seseorang yang dicintai banyak orang di lingkungannya.***


























