KENDARI, Mevin.ID – Kabut duka kemiskinan kembali menelan korban jiwa. Belum kering luka atas peristiwa pilu di Ngada, NTT, kejadian serupa kini mengguncang Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Seorang bocah perempuan berinisial NW (8), meninggal dunia secara tragis setelah dilindas alat berat jenis loader saat sedang menjajakan tisu di lampu merah, Kamis (30/1/2026) malam.
Kejadian memilukan ini berlangsung di perempatan lampu merah depan PLN UP3 Kendari, Jalan KH Ahmad Dahlan.
NW, yang merupakan siswi kelas 4 SD, harus meregang nyawa di aspal demi satu tujuan mulia: membeli beras untuk keluarganya.
“Tunggu Ma, Saya Carikan Pembeli Beras”
Dibalik insiden maut tersebut, tersimpan dialog terakhir yang menyayat hati antara NW dan ibunya.
Malam itu, NW mengeluh lapar dan meminta makan, namun sang ibu terpaksa menjawab bahwa tidak ada nasi di rumah mereka.
Ma kenapa kita miskin? Saya mau sekolah yang tinggi biar bisa belikan rumah mama,” katanya.
Didorong rasa kasih sayang kepada sang ibu, bocah mungil ini pun berinisiatif mengambil sisa tisu untuk dijual.
“Tunggu Ma, saya carikan kita pembeli beras,” ujar NW sebelum melangkah menuju lampu merah yang menjadi lokasi terakhir nafasnya.
Sesaat setelah kejadian, sang ibu yang mendapati tubuh putrinya terbujur kaku bersimbah darah tak mampu membendung histeris.
Ia terus memeluk jasad NW di trotoar sambil meratapi kemiskinan yang memaksa anaknya bekerja.
“Saya suruh pergi jual tisu karena kita mau makan tidak ada nasi,” tangisnya pecah di hadapan warga.
Polisi: Kasus Naik ke Tahap Penyidikan
Pihak Kepolisian Resor Kota (Polresta) Kendari langsung bergerak cepat menangani kasus ini. Kasatlantas Polresta Kendari, AKP Kevin Fahri Ramadhan, mengungkapkan bahwa alat berat beserta operatornya yang berinisial ZA (36) telah diamankan.
Meskipun sempat diduga sebagai korban tabrak lari karena operator meninggalkan lokasi, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan pengakuan berbeda dari sang sopir.
“Untuk operator berdasarkan keterangannya tidak kabur, melainkan tidak sadar kalau alat beratnya melindas korban. Saat ini kasusnya sudah naik ke tahap penyidikan,” ujar AKP Kevin kepada media, Jumat (6/2/2026).
Alarm Keras bagi Jaminan Sosial
Kematian NW bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa. Peristiwa ini merupakan tamparan keras bagi sistem perlindungan anak dan jaminan sosial di daerah.
Kemiskinan ekstrem yang memaksa anak di bawah umur turun ke jalanan demi kebutuhan pokok adalah fenomena gunung es yang memerlukan tindakan nyata dari pemerintah setempat.
Kini, Najwa telah pergi. Ia meninggalkan pesan terakhir tentang perjuangan melawan lapar yang berakhir di bawah roda alat berat.
Publik berharap proses hukum berjalan adil dan menjadi momentum bagi pemerintah untuk lebih serius memperhatikan nasib keluarga prasejahtera agar tidak ada lagi “Najwa-Najwa” lain yang menjadi korban di jalanan.***


























