Bekasi, Mevin.ID — Di halaman kediamannya yang sederhana namun penuh suasana khidmat, Wali Kota Bekasi Dr. H. Tri Adhianto kembali menggelar pengajian bulanan bersama para alim ulama dan tokoh agama se-Kota Bekasi.
Majelis Dzikir Kota Bekasi yang rutin digelar tiap bulan itu bukan sekadar ritual keagamaan—namun cermin dari visi besar sang Wali Kota: menjadikan Bekasi sebagai kota yang islami, tenteram, dan penuh keberkahan.
Dalam suasana malam yang sejuk dan penuh lantunan ayat suci Al-Qur’an, dzikir, tahlil, dan sholawat Nabi Muhammad SAW, Tri menyampaikan tekadnya membangun Bekasi tak hanya dari sisi fisik dan infrastruktur, tapi juga dari sisi spiritual dan moral.
“Majelis ini bukan hanya doa bersama. Ini adalah energi spiritual untuk mengiringi lancarnya pemerintahan dan pembangunan di Kota Bekasi. Doa-doa para alim ulama adalah berkah yang kita harapkan bersama,” ujar Tri di hadapan para tokoh agama, Kamis malam.
Ia berkomitmen agar Majelis Dzikir ini menjadi agenda tetap selama masa kepemimpinannya lima tahun ke depan. Ia ingin menumbuhkan rasa damai dan kekuatan batin di tengah masyarakat Bekasi yang semakin plural dan dinamis.
Melindungi Anak-Anak Lewat Aturan Sekolah dan Jam Malam
Di hadapan para ulama, Tri Adhianto juga memaparkan kebijakan baru menjelang tahun ajaran sekolah. Salah satu yang mencuat adalah larangan membawa handphone (HP) bagi siswa SD dan SMP—baik negeri maupun swasta—saat bersekolah.
“Ini bukan untuk membatasi anak-anak, tapi untuk melindungi mereka dari paparan konten negatif dan gangguan fokus belajar. Sekolah adalah tempat mereka tumbuh, bukan tempat mereka tenggelam dalam dunia digital yang belum siap mereka hadapi,” jelasnya.
Tak hanya itu, Pemkot Bekasi juga menerapkan aturan jam malam bagi anak-anak: larangan berkegiatan di luar rumah setelah pukul 21.00 WIB. Kebijakan ini bertujuan mengurangi potensi kenakalan remaja dan menjaga keamanan lingkungan.
Bekasi Menuju Kota Wisata Sungai
Selain sisi spiritual dan sosial, Tri juga menyinggung proyek pengembangan infrastruktur, termasuk penataan sungai Kali Malang di samping Kampus Unisma Bekasi menjadi kawasan wisata ramah publik.
Ia menegaskan pentingnya penertiban bangunan liar yang berdiri di atas badan sungai, demi kelancaran arus air, terutama saat musim hujan.
Tak ketinggalan, ia menyuarakan dukungan penuh Pemkot terhadap upaya penertiban toko-toko penjual obat ilegal, yang kerap menjadi sumber keresahan masyarakat dan pintu awal penyalahgunaan zat terlarang.
Dengan komitmen membangun dari sisi spiritual, sosial, dan lingkungan, Tri Adhianto seolah ingin membentuk wajah baru Bekasi: kota yang tak hanya berkembang, tapi juga beradab dan berakar pada nilai-nilai luhur.
Sebab bagi Tri, kota yang besar bukan hanya yang dipenuhi bangunan megah, tapi juga yang dipenuhi doa, ketenangan, dan cinta dari warganya.***
Penulis : Fathur Rachman
Editor : Pratigto


























