Majalengka, Mevin.ID – Petani cengkeh dan jagung di Desa Wanahayu, Kecamatan Maja, mulai merasakan manfaat dari sistem tumpang sari kopi yang digagas oleh sekelompok anak muda desa.
Gagasan sederhana ini ternyata berdampak besar: para petani kini tidak hanya bergantung pada hasil panen utama, tetapi juga memperoleh penghasilan tambahan dari kopi.
Salah satu penggagasnya adalah Mulyadi, pemuda dari kelompok Linggawangsana Kopi, yang bersama dua sahabatnya, Agus dan Dede, membentuk kelompok usaha tani kopi.
Mereka mengenalkan dan memfasilitasi sistem tumpang sari ke para petani di sekitar wilayah Wanahayu, Pamulihan, hingga pelosok Maja.
“Awalnya kami ingin mencari cara agar lahan tidak kosong di sela-sela tanaman utama. Ternyata kopi bisa tumbuh baik dan punya nilai jual tinggi,” ujar Mulyadi.
Lihat postingan ini di Instagram
Apa Itu Tumpang Sari Kopi?
Tumpang sari kopi adalah sistem penanaman campuran, di mana kopi ditanam berdampingan dengan tanaman lain seperti cengkeh, jagung, jahe, atau pisang, dalam satu lahan pada waktu yang sama. Sistem ini bertujuan untuk:
- Meningkatkan produktivitas lahan
- Mengurangi risiko gagal panen
- Mendiversifikasi hasil pertanian
- Meningkatkan pendapatan petani
Kopi juga membantu melestarikan lingkungan serta dapat tumbuh di sela-sela tanaman lain tanpa mengganggu produktivitas.
Harapan Besar di Balik Keterbatasan
Meski semangat petani dan kelompok muda ini tinggi, mereka masih menghadapi tantangan dalam pengolahan pasca panen. Saat ini, kopi hanya dijual dalam bentuk cherry atau gabah, karena belum tersedia alat pengolahan.
“Kami sebenarnya ingin menjual kopi yang sudah jadi atau setengah jadi agar nilai jualnya lebih tinggi. Tapi mesin pengolah kopi itu harganya masih cukup mahal. Kami belum mampu sekarang, tapi insya Allah ke depan bisa beli,” harap Mulyadi.
Potensi Pasar Masih Terbuka
Saat ini, pasar kopi dari Desa Cihaur masih berada di wilayah Jawa Barat. Namun dengan meningkatnya minat terhadap kopi lokal dan tren kopi spesialti, peluang ke depan sangat terbuka—terutama jika kelompok ini bisa masuk ke proses roasting dan pengemasan mandiri.
“Kalau kopi bisa diolah sampai jadi bubuk atau roasted bean, petani bisa dapat harga jual dua kali lipat, bahkan lebih,” jelas Agus.
Dengan semangat gotong royong dan visi berkelanjutan dari anak muda desa, tumpang sari kopi bukan hanya soal menanam, tapi soal memperbaiki hidup dan masa depan pertanian lokal.
Majalengka kini menjadi saksi bahwa inovasi kecil di tingkat desa bisa berdampak besar bagi kesejahteraan petani dan ekosistem pertanian. ***


























