SERANG, Mevin.ID – Sebuah video yang menunjukkan seorang ibu rumah tangga merobohkan tembok pembatas pabrik dengan palu besar viral di media sosial, menyoroti aksi protes warga terhadap dampak banjir yang berkepanjangan.
Peristiwa ini terjadi di wilayah Gabus, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten.
Dalam video tersebut, dengan penuh emosi, wanita itu mengayunkan palu berkali-kali ke tembok beton hingga roboh. Aksi itu disebutnya sebagai pelampiasan atas kekecewaan yang telah lama dipendam.
“Nyeri hate aing yeuh, geus dua taun (rumah kebanjiran) euweuh nu paduli ka aing. (Sakit hati ini, sudah dua tahun tidak ada yang peduli sama saya)” ucap sang ibu dengan nada kesal dalam tayangan video yang diunggah akun TikTok Mega Tan, Kamis (5/2/2026).
Akar Masalah
Sang ibu mengeluhkan bahwa banjir yang rutin merendam rumahnya dan pemukiman warga terjadi dalam dua tahun terakhir.
Kondisi ini diduga kuat terkait dengan beroperasinya pabrik PT Lautan Baja Indonesia (LBI) di sekitar lokasi.
Warga menduga, pembangunan pabrik tersebut menutup jalur saluran irigasi yang sebelumnya berfungsi mengalirkan air.
Menurut penuturan warga, penutupan ini tidak disertai dengan pembuatan sistem drainase pengganti yang memadai.
Akibatnya, air hujan tidak lagi memiliki saluran pembuangan yang lancar, sehingga kerap meluap dan membanjiri rumah-rumah penduduk.
Insiden ini langsung menarik perhatian publik dan aparat setempat. Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada manajemen PT Lautan Baja Indonesia (LBI) masih belum memperoleh tanggapan.
Sementara itu, pihak kepolisian dan pemerintah daerah setempat diharapkan segera turun tangan untuk menyelesaikan akar masalah.
Persoalan ini bukan sekadar aksi vandalisme, tetapi merupakan puncak gunung es dari masalah infrastruktur dan lingkungan yang dialami warga.
Tuntutan utama warga adalah adanya solusi permanen terhadap sistem drainase yang rusak dan kompensasi atas dampak yang telah mereka alami selama ini.
Menyoroti Konflik Lingkungan dan Warga
Kasus ini kembali memantik diskusi tentang pentingnya analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang komprehensif dan berkelanjutan dalam setiap pembangunan industri.
Di sisi lain, aksi nekat sang ibu juga mencerminkan keputusasaan warga kecil yang merasa suaranya tidak didengar dalam menyelesaikan masalah yang langsung mengancam kehidupan sehari-hari.
Sang ibu pun menegaskan tidak takut akan risiko yang akan terjadi menimpa dirinya atas aksi nekat tersebut.
“Bejakeun ku aing kituh (Bilangin sama saya),” tegas dia.
Masyarakat menunggu langkah tegas dan solusi nyata dari berbagai pihak terkait agar konflik serupa tidak terulang di masa depan.
Perlu adanya mediasi yang melibatkan perusahaan, warga, dan pemerintah setempat untuk mencari titik terang penyelesaian yang adil.***.
Penulis : Atep K
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: TikTok Mega Tan


























