JAKARTA, Mevin.ID – Program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), kembali diguncang isu miring. Bukan soal teknis distribusi, kali ini publik dihebohkan dengan dugaan adanya dokumen brief konten untuk para pendengung atau buzzer yang bocor di media sosial.
Dokumen tersebut mencuat di tengah derasnya kritik orang tua siswa terkait kualitas makanan yang dianggap tak layak, mulai dari menu yang tidak memenuhi standar gizi hingga temuan makanan busuk yang diterima siswa.
Strategi Terstruktur: Sasar Gen Z hingga Boomers
Dugaan ini pertama kali meledak setelah akun Threads @jek.separo191 mengunggah utas yang memperlihatkan instruksi spesifik untuk membangun narasi positif MBG. Tak tanggung-tanggung, kampanye digital ini diduga menyasar target usia luas, mulai dari 15 hingga 55 tahun.
Dalam bocoran tersebut, terdapat 18 poin ide pengembangan konten yang sangat terorganisir, antara lain:
- Video ‘MBG Core’: Mengikuti tren estetika kekinian agar masuk ke FYP anak muda.
- Testimoni Emosional: Menampilkan video ibu-ibu yang terbantu dan reaksi siswa yang kegirangan.
- Narrative Storytelling: Konten gaya “Day in my life” petugas di dapur Satuan Pelayanan Pemakan Gratis (SPPG).
- Counter-Narrative: Instruksi konten dengan format “POV: MBG hapus aja! Tapi muridku makan lahap banget, jangan hapus ini bermanfaat banget.”
Netizen Geram: “Bukannya Berbenah, Malah Sewa Buzzer”
Viralnya dokumen ini memicu reaksi pedas dari netizen. Banyak yang menyayangkan jika anggaran negara justru dialokasikan untuk memoles citra melalui jasa buzzer di tengah kondisi ekonomi dan nilai tukar Rupiah yang sedang tertekan.
“Marah banget, bukannya berbenah karena rupiah makin anjlok, malah buang-buang duit buat buzzer,” tulis salah satu pengguna Threads yang merasa narasi tersebut sudah mulai berseliweran di media sosial mereka.
Transparansi Program MBG 2026 Dipertanyakan
Memasuki tahun 2026, program MBG memang telah berekspansi besar-besaran dengan menyasar 55,1 juta penerima manfaat.
Namun, temuan di lapangan yang menunjukkan adanya ketidakpuasan orang tua siswa terhadap kualitas makanan kontras dengan narasi “indah” yang muncul di media sosial.
Hingga berita ini diturunkan, Badan Gizi Nasional maupun pengelola SPPG belum memberikan pernyataan resmi terkait kebenaran dokumen brief konten yang beredar tersebut.
Publik kini menanti transparansi mengenai biaya komunikasi dan publikasi program yang menelan anggaran fantastis ini.
Di era digital, batas antara publikasi program dan manipulasi opini lewat buzzer memang tipis. Namun, bagi masyarakat, rasa makanan di piring anak jauh lebih nyata daripada estetika konten di layar ponsel.***
Penulis : Bar Bernad















![BPTJ akan membatasi truk angkutan barang di masa libur Nataru 2023, mulai 24 Desember. [ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/tom]](https://mevin.id/wp-content/uploads/2026/03/29108-jalan-tol-jakarta-cikampek-ditutup-imbas-demo-buruh-di-cikarang-360x200.webp)










