BANDUNG BARAT, Mevin.ID – Media sosial dihebohkan dengan unggahan video amatir yang memperlihatkan detik-detik mencekam peledakan (blasting) di puncak Gunung Karang, Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Video yang diunggah oleh akun TikTok mamahnyadikha485 tersebut memperlihatkan ledakan besar di atas bukit saat kondisi cuaca sedang diguyur hujan, Kamis (22/01/2026).
Aktivitas penambangan batuan andesit yang diperuntukkan bagi proyek strategis PLTA Upper Cisokan ini sontak menuai protes keras.
Warga yang bermukim di sekitar lokasi merasa terancam, mengingat saat ini wilayah Jawa Barat masih diselimuti cuaca ekstrem yang rawan memicu bencana tanah longsor.
Suasana Mencekam di Tengah Hujan
Dalam rekaman yang beredar luas, suara ledakan terdengar menggelegar diikuti dengan kepulan material dari puncak gunung.
Warga mengaku khawatir getaran hebat dari dinamit tersebut dapat memicu ketidakstabilan tanah, apalagi aktivitas dilakukan saat hujan turun—kondisi di mana struktur tanah biasanya lebih rentan.
“Masyarakat merasa resah karena dampak aktivitas tambang ini ditakutkan menyebabkan longsor. Apalagi sekarang cuaca sedang ekstrem,” tulis keterangan dalam narasi yang beredar.
View this post on Instagram
Dampak Meluas: Lebih dari 1.000 Jiwa Terdampak
Gejolak warga Cipongkor terhadap aktivitas di Gunung Karang sebenarnya bukan hal baru.
Berdasarkan catatan, sejak April 2025, masyarakat di dua desa, yakni Desa Karangsari dan Desa Sarinagen, telah berulang kali melayangkan protes.
Kepala Desa Karangsari, Ade Bachtiar, mengungkapkan bahwa dampak dari proyek di lahan milik PLN ini dirasakan oleh lebih dari 1.000 jiwa yang tersebar di 7 RT dan 3 RW.
“Masyarakat bergejolak karena merasa terganggu, terutama akibat ledakan dinamit dan polusi debu dari proses penggilingan batu,” ujar Ade mengutip kompas.com.
Radius Aman 500 Meter Dipertanyakan
Meski pihak pelaksana proyek menetapkan radius aman blasting sejauh 500 meter, kenyataan di lapangan berkata lain.
Banyak rumah warga yang berada di luar radius tersebut tetap merasakan getaran hebat hingga menyebabkan kerusakan pada bangunan permanen.
“Banyak tembok rumah warga yang retak dan rusak saat terjadi ledakan. Wajar jika masyarakat mempertanyakan hak mereka dan menuntut tanggung jawab perusahaan,” imbuh Ade.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap adanya evaluasi menyeluruh terkait prosedur peledakan di Gunung Karang, terutama demi menjamin keselamatan jiwa di tengah ancaman bencana alam dan cuaca buruk yang masih melanda wilayah Bandung Barat.***
Penulis : Bar Bernad

























