Viral! Proyek SDN Dihentikan Paksa, Oknum Satpol PP yang Merangkap Ketua RW Diduga Jadi Dalang

- Redaksi

Rabu, 11 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bekasi, Mevin.ID – Sebuah video pendek yang memperlihatkan tiga pekerja proyek sekolah tampak duduk dengan wajah kebingungan mendadak viral. Mereka bukan sedang istirahat, tapi dicegah bekerja.

Pemicunya? Seorang pria berseragam Satpol PP yang ternyata juga menjabat sebagai Ketua RW 13 Desa Telaga Murni, Cikarang Barat.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @bekasiekspose, tampak proyek pembangunan SDN 02 Telaga Murni dihentikan secara paksa. Salah satu pekerja yang terekam dalam video bahkan mengaku diancam akan dibawa ke kantor polisi jika tetap melanjutkan pekerjaan.

“Sama Pak RW suruh berhenti, malah katanya mau dibawa ke Polsek saya,” ujar pekerja yang hanya mengenakan singlet hitam.

@bekasiekspose Anggota Satpol PP Kota Bekasi yang juga menjabat Ketua RW 13 Desa Telaga Murni berinisial CS diduga menghentikan paksa proyek SDN 02 Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Dalam video tersebut menunjukkan tiga kuli atau pekerja proyek tengah duduk dengan raut wajah penuh kebingungan di depan ruangan sekolah. Para pekerja bahkan sempat diancam akan dilaporkan oleh CS apabila mereka tetap melanjutkan pekerjaannya. “Sama Pak RW suruh berhenti, malah katanya mau dibawa ke Polsek saya,” kata salah satu pekerja yang mengenakan kaos singlet berwarna hitam, dikutip Kompas.com, Rabu (11/6/2025). Terpisah, Kapolsek Cikarang Barat AKP Tri Baskoro Bintang membenarkan peristiwa penghentian paksa proyek sekolah oleh anggota Satpol PP Kota Bekasi selaku Ketua RW 13 Desa Telaga Murni. “Yang menjadi ketua RW di situ bekerja sebagai Satpol PP Kota Bekasi,” kata Bintang kepada Kompas.com. Bintang menjelaskan, duduk persoalan penghentian proyek berawal ketika warga mengajukan penggunaan lahan ke salah satu developer perumahan untuk dibangun kantor Sekretariat RW 13 Desa Telaga Murni. Permintaan tersebut ternyata tak kunjung direspons oleh pihak developer. Warga pun bertanya-tanya. Pada saat yang bersamaan, SDN 02 Telaga Murni juga mengerjakan proyek pelebaran sekolah di tanah yang hendak dijadikan kantor sekretariat RW setempat. Warga yang menganggap lahan tersebut milik developer akhirnya memaksa supaya proyek pelebaran sekolah dihentikan. Penolakan tersebut berlangsung sekitar dua pekan belakangan ini. Usut punya usut, tanah yang hendak digunakan sebagai kantor sekretariat RW ternyata sudah bersertifikat atas nama Pemerintah Kabupaten Bekasi. “Memang secara hukum tanah tersebut milik Pemerintah Kabupaten Bekasi, dalam hal ini dinas pendidikan, dibuktikan dengan adanya sertifikat,” ungkap Bintang. Pihak Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Cikarang Barat akhirnya turun tangan dengan menggelar mediasi pada Selasa (10/6/2025). Dari mediasi tersebut diputuskan akan dilakukan pengukuran terhadap lahan yang menjadi obyek proyek pelebaran sekolah pada Selasa (17/6/2025). “Tanggal 17 Juni akan ada pertemuan lagi dengan pihak terkait, termasuk dari BPN, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan, Dinas Pendidikan untuk mencari win-win solution,” ucap Bintang. Bintang juga memastikan bahwa proyek pelebaran sekolah berlanjut setelah sempat ditolak sejumlah warga. “Untuk pembangunan tetap berjalan,” imbuh Bintang. Sumber: Kompas.com #bekasi #bekasiviral #fyp #fyppppppppppppppppppppppp #cikarang ♬ suara asli – bekasiekspose

Kisruh Lahan yang Mengambang

Kapolsek Cikarang Barat, AKP Tri Baskoro Bintang, membenarkan bahwa pihak yang menghentikan proyek adalah anggota Satpol PP Kota Bekasi, yang juga Ketua RW setempat.

Masalahnya, lahan tempat sekolah dibangun ternyata sempat diperebutkan. Warga menilai lahan itu adalah janji dari pengembang untuk dibangun kantor sekretariat RW. Namun harapan itu tak kunjung terealisasi.

Di sisi lain, pihak SDN 02 justru memanfaatkan lahan tersebut untuk pelebaran sekolah. Situasi ini memicu konflik yang melibatkan warga, pengembang, dan pemerintah daerah.

“Memang secara hukum tanah tersebut milik Pemkab Bekasi. Itu dibuktikan dengan adanya sertifikat atas nama Dinas Pendidikan,” tegas AKP Bintang.

Drama Dua Pekan, Solusi Satu Meja

Penolakan proyek oleh warga berlangsung hampir dua pekan. Ketegangan mereda setelah Forkopimcam Cikarang Barat turun tangan, memediasi semua pihak pada Selasa (10/6/2025). Keputusannya? Pengukuran ulang lahan akan dilakukan pada 17 Juni mendatang oleh BPN bersama Dinas PRKP dan Dinas Pendidikan.

“Harapannya kita bisa dapat solusi win-win. Yang penting pembangunan sekolah bisa terus berjalan,” kata AKP Bintang.

Ketika Jabatan Ganda Jadi Dilema

Hingga kini, Kepala Satpol PP Kota Bekasi, Karto, belum memberikan keterangan resmi atas keterlibatan anggotanya.

Sementara itu, sorotan publik makin tajam terhadap jabatan ganda oknum tersebut: sebagai aparat penegak perda, sekaligus pemuka warga. Sebuah kombinasi yang kerap berujung konflik kepentingan.

Di balik kegaduhan ini, yang perlu diingat: sekolah bukan hanya bangunan, tapi simbol masa depan anak-anak.

Dan ketika proyek pendidikan terhenti karena konflik lahan dan ego pejabat lokal, siapa yang paling dirugikan?***

Facebook Comments Box

Penulis : Clendy Saputra

Editor : Pratigto

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kas KKW Diduga Dipinjam untuk Bangun Area Kuliner, Warga RW 13 Resah dan Minta Audit
Majalengka Mulai Tinggalkan Sawahnya: Ledakan Pekerja Manufaktur Ubah Wajah Ekonomi Daerah
Merayakan Pengabdian, Jalan Sehat PGRI Bogor Satukan Pendidik dari TK hingga Perguruan Tinggi
Di Balik Sorak Kemenangan, Ada Duka yang Turut Menggema di GBLA
Longsor Arjasari Timbun 5 Rumah: Tiga Warga Belum Ditemukan, Evakuasi Dilanjutkan Pagi Ini
Relawan Jabar Gelar Saresehan, Desak Pemprov Aktifkan Posko dan Ruang Komando Bencana
Banjir Bandang Isolasi Aceh Tamiang: Kota Gelap, Bau Bangkai, dan Akses Putus Total
Bupati Aceh Selatan Diduga Pergi Umrah Dua Hari Setelah Teken Surat Darurat Banjir, Warga Merasa Ditinggalkan
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 7 Desember 2025 - 08:31 WIB

Kas KKW Diduga Dipinjam untuk Bangun Area Kuliner, Warga RW 13 Resah dan Minta Audit

Sabtu, 6 Desember 2025 - 20:10 WIB

Majalengka Mulai Tinggalkan Sawahnya: Ledakan Pekerja Manufaktur Ubah Wajah Ekonomi Daerah

Sabtu, 6 Desember 2025 - 11:49 WIB

Merayakan Pengabdian, Jalan Sehat PGRI Bogor Satukan Pendidik dari TK hingga Perguruan Tinggi

Sabtu, 6 Desember 2025 - 09:20 WIB

Di Balik Sorak Kemenangan, Ada Duka yang Turut Menggema di GBLA

Sabtu, 6 Desember 2025 - 07:36 WIB

Longsor Arjasari Timbun 5 Rumah: Tiga Warga Belum Ditemukan, Evakuasi Dilanjutkan Pagi Ini

Berita Terbaru