Agam, Mevin.ID — Di sebuah posko pengungsian yang dipenuhi aroma tenda basah dan suara anak-anak yang berusaha tetap ceria, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka duduk bersila di tengah warga Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Kamis pagi itu, tak ada jarak protokoler—hanya seorang wakil presiden yang datang membawa kabar, permintaan maaf, dan rasa empati.
“Dari Bapak Presiden Prabowo, saya haturkan duka cita yang mendalam,” ucap Gibran pelan, menatap satu per satu wajah yang memendam kehilangan. “Bapak-Ibu tidak sendiri. Warga Sumatera tidak sendiri.”
Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian peninjauan banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Di pangkuannya, sebuah buku saku kecil terus terbuka. Setiap keluhan—tentang logistik yang tersendat, jalan yang putus, sekolah yang rusak—dicatat tanpa jeda.
Gibran menyampaikan bahwa Presiden telah memerintahkan percepatan pemulihan. Distribusi bantuan, katanya, kini dikebut melalui jalur darat, udara, hingga laut.
Infrastruktur dasar seperti puskesmas, sekolah, jembatan, dan akses komunikasi juga mulai ditangani agar aliran logistik kembali normal.
“Perbaikan jalan, jembatan, puskesmas, sekolah—semua akan dipercepat. Kita harus pastikan BBM dan bantuan jasa kemanusiaan ini lancar,” ujarnya.
Dari Agam, Gibran bergerak cepat ke dua titik lain: Tapanuli Selatan di Sumatera Utara, lalu Aceh Singkil. Tiga provinsi dalam satu hari—sebuah gerak cepat yang menurutnya penting untuk memastikan pemulihan tidak terhambat birokrasi.
“Bapak-Ibu tidak sendiri,” ulangnya sebelum meninggalkan posko. “Kami akan terus turun ke lapangan.”
Bupati Agam, Benni Warlis, yang mendampingi kunjungan itu, membenarkan beratnya situasi. Kabupaten Agam menjadi titik dengan dampak terparah di Sumbar.
“Infrastruktur kita banyak yang rusak: jalan, jembatan, sawah tertimbun, rumah, sampai penggilingan,” kata Benni. “Korban yang ditemukan sudah 169 orang, 84 masih hilang. Di posko ada 15 ribu pengungsi, dan 20 ribu warga masih terisolasi.”
Hari itu, di tengah kepungan duka dan ketidakpastian, satu hal yang berusaha dibangun kembali adalah rasa tenang. Dan bagi para pengungsi, kehadiran Gibran—dengan catatan kecilnya, dengan duduk di tanah yang sama—setidaknya menjadi pengingat bahwa mereka belum ditinggalkan.***
Penulis : Bar Bernad


























