Wapres Gibran Minta Maaf dan Tenangkan Warga Terdampak Banjir Bandang di Agam

- Redaksi

Kamis, 4 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Mevin.ID — Di sebuah posko pengungsian yang dipenuhi aroma tenda basah dan suara anak-anak yang berusaha tetap ceria, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka duduk bersila di tengah warga Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Kamis pagi itu, tak ada jarak protokoler—hanya seorang wakil presiden yang datang membawa kabar, permintaan maaf, dan rasa empati.

“Dari Bapak Presiden Prabowo, saya haturkan duka cita yang mendalam,” ucap Gibran pelan, menatap satu per satu wajah yang memendam kehilangan. “Bapak-Ibu tidak sendiri. Warga Sumatera tidak sendiri.”

Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian peninjauan banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.

Di pangkuannya, sebuah buku saku kecil terus terbuka. Setiap keluhan—tentang logistik yang tersendat, jalan yang putus, sekolah yang rusak—dicatat tanpa jeda.

Gibran menyampaikan bahwa Presiden telah memerintahkan percepatan pemulihan. Distribusi bantuan, katanya, kini dikebut melalui jalur darat, udara, hingga laut.

Infrastruktur dasar seperti puskesmas, sekolah, jembatan, dan akses komunikasi juga mulai ditangani agar aliran logistik kembali normal.

“Perbaikan jalan, jembatan, puskesmas, sekolah—semua akan dipercepat. Kita harus pastikan BBM dan bantuan jasa kemanusiaan ini lancar,” ujarnya.

Dari Agam, Gibran bergerak cepat ke dua titik lain: Tapanuli Selatan di Sumatera Utara, lalu Aceh Singkil. Tiga provinsi dalam satu hari—sebuah gerak cepat yang menurutnya penting untuk memastikan pemulihan tidak terhambat birokrasi.

“Bapak-Ibu tidak sendiri,” ulangnya sebelum meninggalkan posko. “Kami akan terus turun ke lapangan.”

Bupati Agam, Benni Warlis, yang mendampingi kunjungan itu, membenarkan beratnya situasi. Kabupaten Agam menjadi titik dengan dampak terparah di Sumbar.

“Infrastruktur kita banyak yang rusak: jalan, jembatan, sawah tertimbun, rumah, sampai penggilingan,” kata Benni. “Korban yang ditemukan sudah 169 orang, 84 masih hilang. Di posko ada 15 ribu pengungsi, dan 20 ribu warga masih terisolasi.”

Hari itu, di tengah kepungan duka dan ketidakpastian, satu hal yang berusaha dibangun kembali adalah rasa tenang. Dan bagi para pengungsi, kehadiran Gibran—dengan catatan kecilnya, dengan duduk di tanah yang sama—setidaknya menjadi pengingat bahwa mereka belum ditinggalkan.***

Facebook Comments Box

Penulis : Bar Bernad

Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pakai Modus “Uang Karungan”, Bupati Pati Sudewo Resmi Jadi Tersangka Jual Beli Jabatan
Wamenkum Desak Pembahasan Cepat RUU Pidana Mati Bersama Komisi III DPR
Gempa Berkekuatan M 5,7 Guncang Kepulauan Tanimbar, Maluku
Darurat Mental Health! Menkes Ungkap 28 Juta Penduduk Indonesia Punya Masalah Kejiwaan
Tingkatkan Kinerja, Komisi III DPR RI Setuju Usulan Penambahan Anggaran di Kejaksaan
Tangan Diborgol, Wali Kota Madiun Maidi Resmi Ditahan KPK Terkait Kasus Pemerasan & Gratifikasi
Pakai Rompi Oranye KPK, Bupati Pati Sudewo Bantah Peras Calon Perangkat Desa Rp2,6 Miliar
GUN Ketua LSM Sniper Diperiksa KPK Terkait Korupsi Bupati Bekasi Ade Kunang

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 16:30 WIB

Wamenkum Desak Pembahasan Cepat RUU Pidana Mati Bersama Komisi III DPR

Rabu, 21 Januari 2026 - 16:07 WIB

Gempa Berkekuatan M 5,7 Guncang Kepulauan Tanimbar, Maluku

Rabu, 21 Januari 2026 - 11:49 WIB

Darurat Mental Health! Menkes Ungkap 28 Juta Penduduk Indonesia Punya Masalah Kejiwaan

Rabu, 21 Januari 2026 - 11:32 WIB

Tingkatkan Kinerja, Komisi III DPR RI Setuju Usulan Penambahan Anggaran di Kejaksaan

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:48 WIB

Tangan Diborgol, Wali Kota Madiun Maidi Resmi Ditahan KPK Terkait Kasus Pemerasan & Gratifikasi

Berita Terbaru