50 KOTA, Mevin.ID – Sebuah fenomena alam berupa lubang runtuhan (sinkhole) di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, mendadak jadi magnet wisata baru.
Sejak pertama kali muncul pada Minggu, 4 Januari 2026, kawasan persawahan di Hat Jorong ini tak pernah sepi dari serbuan warga yang penasaran.
Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme masyarakat yang luar biasa. Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan ada yang mengaku jauh-jauh datang dari Aceh hanya untuk melihat langsung lubang berdiameter sekitar 15 meter dengan bentuk yang hampir bulat sempurna tersebut.
Wisata Dadakan dan Ritual Ambil Air
Tak sekadar berswafoto atau membuat konten dengan ponsel pintar, fenomena ini melahirkan pemandangan unik.
Sejumlah pengunjung terlihat sengaja datang untuk mengambil air dari dasar lubang. Meski tidak terlihat adanya pipa penyalur, warga setempat tampak sigap membantu pengunjung mengambil air tersebut.
Di sekitar lokasi, jerigen-jerigen plastik pun mulai dijajakan. Tidak ada tarif resmi untuk pengambilan air, namun tersedia kotak donasi sukarela bagi mereka yang ingin menyumbang.
“Ada gula, ada semut.” Pepatah ini tepat menggambarkan kondisi Situjuah Batua saat ini. Aroma keramaian membangkitkan naluri ekonomi para pedagang.
Lapak-lapak pedagang dadakan kini berjejer di sepanjang pinggir jalan menuju lokasi lubang runtuhan.
Berkah Ekonomi, Namun Bukan Warga Lokal?
Meski penduduk setempat mengaku senang karena desa mereka mendadak ramai dan berharap fenomena ini membawa rezeki, sebuah fakta menarik terungkap.
Sebagian besar pedagang yang mangkal justru bukan merupakan warga asli nagari setempat.
“Banyak yang datang dari kota sejak fajar. Bukan warga sini yang berjualan,” ungkap salah seorang penduduk.
Untuk menjaga ketertiban, warga lokal lebih banyak berperan sebagai penjaga keamanan, pengelola parkir, hingga mengelola sumbangan sukarela.
Sejumlah area sawah dan tanaman milik petani juga mulai dipagari bambu agar tidak rusak terinjak-injak oleh lautan manusia yang terus berdatangan.
Ancaman di Balik Keindahan
Di balik rasa penasaran warga, risiko besar mengintai. Pihak berwenang sebenarnya telah memasang garis polisi dan pagar bambu tambahan demi keamanan.
Namun, faktanya masih banyak warga yang nekat mendekati bibir lubang demi mendapatkan sudut foto terbaik.
Para ahli memperingatkan bahwa tanah di sekitar lubang runtuhan tersebut masih sangat labil dan berpotensi mengalami pergerakan susulan. Keruntuhan berturut-turut atau munculnya lubang baru tetap menjadi ancaman nyata.
Di lokasi, sejumlah petugas berseragam terlihat melakukan pengukuran dan pengambilan sampel tanah.
Sementara itu, mobil patroli polisi tampak bersiaga untuk mengatur lalu lintas yang mengalami kemacetan hingga 1 km akibat parkir kendaraan yang membludak di pinggir jalan.
Akankah Menjadi Destinasi Permanen?
Hingga menjelang senja, arus pengunjung tidak kunjung surut. Pertanyaan besarnya adalah: akankah “lubang ajaib” ini benar-benar menjadi destinasi wisata baru yang berkelanjutan bagi Kabupaten Lima Puluh Kota?
Ataukah ini merupakan peringatan alam yang harus diwaspadai sebelum jatuh korban?
Untuk saat ini, Situjuah Batua masih bersolek dengan keramaiannya, sembari menunggu jawaban pasti dari penelitian para ahli terkait fenomena alam yang muncul di awal tahun 2026 ini.***
Penulis : Bar Bernad


























