BANDUNG, Mevin.ID – Kondisi cuaca di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, diperkirakan masih akan menantang dalam beberapa hari ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung memperingatkan bahwa potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih sangat tinggi di lokasi pencarian korban longsor tersebut.
Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa pola cuaca saat ini belum menunjukkan perubahan signifikan. Hal ini disebabkan wilayah Jawa Barat telah memasuki periode puncak musim hujan, di mana curah hujan mencapai titik tertingginya.
“Sepekan ke depan potensinya masih sama. Hujan ringan hingga lebat masih berpotensi untuk wilayah Cisarua ini. Karena sedang di titik puncak, tentunya intensitasnya semakin tinggi,” ujar Teguh di Bandung, Jumat (30/1).
Dua Pesawat Dikerahkan untuk Modifikasi Cuaca
Menanggapi ancaman cuaca ekstrem yang dapat menghambat proses evakuasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah strategis dengan menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengerahkan dua unit pesawat untuk melakukan penyemaian awan di wilayah Bandung Barat. Tujuannya adalah untuk “memecah” atau mengurangi intensitas hujan agar tidak mengguyur lokasi bencana secara berlebihan.
-
Fungsi Operasi: Mengurangi curah hujan (bukan menghentikan total) agar proses pencarian korban di lapangan tetap bisa berjalan optimal.
-
Durasi Pengawasan: Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, pengawasan ketat dilakukan setidaknya hingga Sabtu (31/1) siang mengingat potensi awan hujan yang masih tebal.
Imbauan Kesiapsiagaan Sektor Terkait
BMKG menekankan pentingnya penguatan kesiapsiagaan dari berbagai sektor untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi susulan, seperti banjir bandang atau longsor lanjutan. Tanah yang sudah labil akibat hujan terus-menerus menjadi risiko utama bagi para petugas di lapangan maupun masyarakat sekitar.
“Penguatan dari berbagai sektor harus tetap ditingkatkan. Masyarakat juga tetap harus waspada, terutama saat melihat tanda-tanda peningkatan debit air atau pergerakan tanah,” pungkas Teguh.***
Editor : Bar Bernad
Sumber Berita: Antara


























