World Bank Ingatkan Defisit APBN RI Bisa Mendekati 3 Persen pada 2027

- Redaksi

Kamis, 18 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Mevin.ID – Bank Dunia memberi peringatan kondisi fiskal Indonesia berpotensi memburuk dalam dua tahun ke depan, seiring tren defisit APBN yang diperkirakan mendekati batas 3 persen terhadap PDB pada 2027.

Peringatan tersebut dimuat dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Desember 2025. Bank Dunia memproyeksikan defisit APBN berada di level 2,8 persen PDB pada 2025, bertahan pada 2026, dan meningkat menjadi 2,9 persen PDB pada 2027.

Defisit itu lebih dalam dibandingkan realisasi Oktober 2025 sebesar 2,0 persen PDB, serta lebih tinggi dari target defisit APBN 2026 sebesar 2,7 persen.

Selain defisit yang melebar, Bank Dunia mencatat rasio pendapatan negara terhadap PDB diperkirakan turun dari 13,5 persen pada 2022 menjadi 11,6 persen pada 2025, sebelum sedikit meningkat ke level 11,8 persen pada 2026.

Pelemahan pendapatan negara dipicu penurunan harga komoditas, percepatan restitusi pajak, dan pengalihan dividen BUMN.

Pertumbuhan ekonomi stagnan 5 persen

Bank Dunia mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan 5 persen pada 2024 hingga 2026. Sinyal pemulihan baru terlihat pada 2027, ketika proyeksi pertumbuhan naik ke 5,2 persen.

Hal ini bertolak belakang dengan target pemerintah dalam RPJMN 2025–2029 yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen pada akhir masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Bank Dunia menilai penopang utama pertumbuhan ke depan adalah investasi. Proyeksi pembentukan modal tetap bruto tumbuh 6,1 persen pada 2025 dan 5,6 persen pada 2026, lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan konsumsi swasta yang hanya 4,9 persen.

Namun risiko fiskal dinilai masih nyata, terutama karena meningkatnya beban utang. Rasio utang pemerintah pusat diprediksi naik dari 39,8 persen PDB pada 2024 menjadi 40,5 persen pada 2025, 41,1 persen pada 2026, dan 41,5 persen pada 2027.

Bank Dunia menyebut rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan mencapai 20,5 persen hingga Oktober 2025, menandakan ruang belanja produktif semakin menyempit.

Laporan tersebut merekomendasikan penguatan administrasi dan kebijakan perpajakan guna menambah ruang fiskal dan menjaga disiplin anggaran di tengah tekanan pendapatan negara yang melemah.***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel mevin.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dedi Mulyadi Berang: Utang BUMN Rp3,7 Triliun di Bank BJB Jadi Beban Jawa Barat, Ini Daftarnya
Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya: Tenang, Ekonomi Kita Masih Kuat!
Produksi Nikel 2026 Melorot, Sengaja Dipangkas Kementerian ESDM: Ini Alasannya 
Selamatkan Industri Tekstil, Pemerintah Bentuk BUMN Baru di Bawah Danantara Senilai Rp101 Triliun
Pemprov Jabar Rancang Skema Swap Share: Lepas Saham Kertajati demi Bandara Husein Sastranegara
Rekrutmen Kemenkes Program Penguatan Sistem Rujukan Nasional, Link Pendaftarannya di Sini
Minimarket Sumedang Wajib ‘Wakaf Hijau’? Tuntutan Syarat Izin Baru Berbasis Lingkungan Mencuat
Disindir Prabowo Soal Praktik ‘Main Mata’ di Pajak dan Bea Cukai, Menkeu Purbaya Siap Bersih-Bersih Skuad

Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026 - 20:21 WIB

Dedi Mulyadi Berang: Utang BUMN Rp3,7 Triliun di Bank BJB Jadi Beban Jawa Barat, Ini Daftarnya

Senin, 19 Januari 2026 - 22:34 WIB

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya: Tenang, Ekonomi Kita Masih Kuat!

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:15 WIB

Produksi Nikel 2026 Melorot, Sengaja Dipangkas Kementerian ESDM: Ini Alasannya 

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:44 WIB

Selamatkan Industri Tekstil, Pemerintah Bentuk BUMN Baru di Bawah Danantara Senilai Rp101 Triliun

Rabu, 14 Januari 2026 - 08:44 WIB

Pemprov Jabar Rancang Skema Swap Share: Lepas Saham Kertajati demi Bandara Husein Sastranegara

Berita Terbaru